Langkah ini dinilai sangat strategis, sebab industri yang memiliki sertifikat industri hijau akan lebih mudah menembus pasar global.
Dorongan ini menjadi bagian dari upaya Kadin untuk membantu pelaku usaha beradaptasi dengan tuntutan global dan regulasi pemerintah terkait isu lingkungan.
Chairman Kadin Net Zero Hub, Anthony Utomo, menjelaskan bahwa roadshow yang mereka adakan bertujuan memberikan gambaran dan memotivasi perusahaan agar mendukung ekonomi rendah karbon nasional.
“Pengurangan emisi bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi langkah strategis agar dunia usaha mampu bertahan, tumbuh, dan tetap selaras dengan regulasi maupun tuntutan pemerintah," jelasnya.
Jawa Timur, sebagai provinsi yang menyumbang 15% produk domestik bruto (PDB) nasional, memiliki peran krusial dalam transisi ini.
Menurutnya, ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menekan emisi karbon, misalnya, dengan elektrifikasi logistik.
Selain itu, perusahaan juga bisa melakukan efisiensi energi melalui otomasi operasional.
"Efisiensi energi melalui otomasi operasional juga bisa dilakukan. Sehingga, perusahaan bisa lebih hemat dari tahun ke tahun,” imbuhnya.
Anthony juga menyoroti peningkatan pesat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Dua tahun lalu, pangsa pasar kendaraan listrik hanya 2% dari total penjualan nasional.
Angka itu meningkat menjadi 5% tahun lalu, dan kini per September telah mencapai hampir 15%. “Lonjakan ini luar biasa, tetapi tetap membutuhkan dukungan pelaku usaha dan regulator,” jelasnya.
Dukungan terhadap inisiatif ini datang dari Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto. Ia menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon adalah agenda yang harus segera diimplementasikan.
Adik memberikan contoh nyata dari salah satu eksportir produk kayu di Jawa Timur. "Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke salah satu eksportir produk kayu di Jawa Timur. Mereka bercerita bahwa pembeli dari Eropa mulai menolak produk yang tidak memiliki sertifikasi hijau,” paparnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tuntutan pasar global semakin ketat dan berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena itu, penerapan rantai produksi rendah karbon bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi perusahaan yang ingin bersaing di kancah internasional.
Editor : Redaksi Lombok Post