Inovasi ini sukses mencuri perhatian para penikmat kuliner.
Idenya sederhana, gara-gara daun kelor melimpah di rumah.
Yuliana mulai berpikir membuat produk kuliner.
Ia pun mencoba bereksperimen. Setelah beberapa kali trial and error, akhirnya daun kelor berhasil menjadi pewarna alami untuk cendol.
Kata Yuliana, banyak yang meragukan rasanya, karena disangka pahit.
Namun, anggapan itu langsung sirna setelah mencoba.
Dengan adonan yang tepat, cendol kelor tidak meninggalkan rasa pahit sama sekali.
"Setelah uji coba ke teman-teman, testimoni mereka bilang tidak ada rasa pahitnya," ujarnya.
Tak hanya lezat, proses pembuatannya pun terbilang mudah. Daun kelor diblender untuk diambil sarinya, lalu dicampurkan ke adonan.
Untuk sekali adonan, ia membutuhkan sekitar 300 hingga 400 gram daun kelor. Itu bisa menghasilkan hingga 60 porsi cendol.
Antusiasme penikmat kuliner mulai terlihat saat pertama kali ikut event di ulang tahun Lombok Epicentrum Mall tahun lalu.
Saat ini, Es Cendol Kelor Lombok juga biasa ditemukan di berbagai event nasional.
“Seperti event di kawasan Mandalika, Rinjani, dan Tanjung Color Run,” bebernya.
Es Cendol Kelor Lombok memiliki beberapa varian rasa. Varian gula aren dan durian menjadi yang paling laris.
Namun, Yuliana tidak berhenti berinovasi.
Ia kini sedang mengembangkan varian baru yang lebih kekinian seperti matcha dan teh Tarik.
“Itu untuk menjangkau segmen pasar anak muda,” katanya.
Selain cendol, Yuliana juga memiliki produk lain di bawah brand Maakrezz.
Produk brownies yang terbuat dari tepung moka dengan campuran daun kelor.
Editor : Kimda Farida