Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Per Agustus 2025, BBPOM Mataram Terbitkan 1.152 Izin Edar Pelaku Usaha

Geumerie Ayu • Sabtu, 27 September 2025 | 19:18 WIB

Produk UMKM NTB yang telah memiliki izin edar BPOM RI di etalase NTB Mall, Mataram.
Produk UMKM NTB yang telah memiliki izin edar BPOM RI di etalase NTB Mall, Mataram.
LombokPost - Izin edar merupakan komponen penting bagi pelaku usaha, terutama sektor olahan pangan.

Hingga Agustus 2025, tercatat 1.152 nomor izin edar pelaku usaha, khususnya UMKM diterbitkan.

Capaian ini menunjukkan lonjakan signifikan dalam legalitas dan kualitas produk UMKM lokal.

Hal ini, kata didukung penuh inovasi unggulan Gemilang Pro UMKM.

Inovasi ini lahir dari kesadaran akan keterbatasan personel perizinan di BBPOM yang hanya tiga orang.

“Gemilang Pro UMKM adalah inovasi kolaborasi lintas lembaga yang bertujuan menyediakan layanan pendampingan one-stop service bagi UMKM,” jelas Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram Yosef Dwi Irwan.

Pendampingan yang diberikan mencakup aspek perizinan, permodalan, dan pemasaran.

Dalam kolaborasi ini, BBPOM menggandeng berbagai pihak.

Mulai dari pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Daerah, akademisi, hingga perbankan.

"Inovasi Gemilang Pro UMKM ini terbukti memberikan dampak positif yang luar biasa," sambungnya.

Dampak nyatanya terukur dari beberapa hal, seperti pertumbuhan omzet UMKM yang didampingi dan telah memiliki Izin Edar BPOM mencatat peningkatan omzet hingga 179 persen.

Selain itu, terjadi penambahan dan perluasan pegawai hingga 152 persen.

“Inovasi ini bahkan telah mendapatkan pengakuan nasional, berhasil masuk dalam Top 5 Kelompok Aplikasi KemenPAN RB di tahun 2024,” bebernya.

Meski target penerbitan izin edar tidak dibatasi, BBPOM Mataram menetapkan target minimal pendampingan 28 UMKM dalam setahun.

Dalam praktiknya, angka ini sering terlampaui, bahkan bisa mencapai 32 UMKM berkat bantuan para fasilitator.

"Kami tidak mampu jika hanya bertiga. Oleh karena itu, kami melibatkan 72 fasilitator dari adik-adik mahasiswa yang secara aktif melakukan pendampingan," jelasnya.

Pendampingan ini sangat krusial karena dilakukan mulai dari tahapan awal hingga akhir proses perizinan.

Jika pendampingan dilepas di tengah jalan, sulit bagi UMKM untuk mencapai target.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah terkait literasi digital.

Sistem perizinan BPOM kini telah menggunakan sistem daring.

Namun banyak UMKM yang belum sepenuhnya siap.

"Adanya adik-adik mahasiswa yang kami latih dan jadikan fasilitator, proses pendampingan itu menjadi lebih cepat. Mereka membantu menjembatani masalah SDM dan literasi digital di kalangan pelaku usaha," tandasnya.

Editor : Kimda Farida
#olahan pangan #BBPOM Mataram #pelaku usaha #izin edar