Total nilai ekspor NTB pada bulan tersebut mencapai USD 173,7 juta (sekitar Rp 2,7 Triliun, kurs Rp 15.600/USD).
Angka ekspor ini didominasi oleh komoditas industri olahan, dengan emas murni dari hasil smelter di Sumbawa Barat yang menjadi primadona baru.
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, kontributor terbesar ekspor September adalah kelompok perhiasan/permata, yang nilainya menembus USD 111,05 juta.
Ekspor perhiasan dan permata ini mayoritas atau hampir 99 persennya adalah emas.
“Emas yang diekspor pada September mencapai sekitar 969 kilogram, hampir satu ton," ujar Wahyudin.
Emas batangan ini berasal dari fasilitas smelter yang telah beroperasi di Sumbawa Barat, milik PT Amman Mineral.
Ini membuktikan, program hilirisasi industri tambang mulai menunjukkan taringnya.
Emas ini dikirim ke Swiss melalui Bandara Soekarno Hatta, lantaran belum ada rute udara langsung dari NTB ke Swiss.
“Volume 969 kilogram ini menjadikan emas sebagai komoditas ekspor NTB paling berharga bulan ini," tegas Wahyudin.
Selain emas, kelompok ekspor terbesar kedua adalah tembaga atau katoda.
Kelompok ini juga hasil olahan smelter dengan nilai mencapai USD 55,89 juta.
Tembaga ini dikirim ke Tiongkok, Amerika, Thailand, dan Vietnam, umumnya melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Di samping produk mineral hasil industri, sektor perikanan juga menunjukkan potensi.
Ekspor ikan dan udang, yang terdiri dari udang kaki putih (vaname) dan fillet tuna, terus berjalan.
Namun Wahyudin menyoroti pengolahan ikan tuna di Labuan Lombok, Lombok Timur.
Volume limbah, seperti kepala tuna berbobot hingga 20 kilogram per ekor belum dimanfaatkan secara optimal oleh pengusaha lokal.
Limbah kepala tuna itu bisa satu hingga empat ton per hari saat pengolahan tinggi, tapi hanya sekitar 50-an kilogram yang diambil pengusaha sekitar.
“Sisanya dikirim ke Bali. Ini sangat disayangkan," imbuhnya.
Lebih lanjut dijelaskan Wahyudin, secara kumulatif (Januari–September 2025), total nilai ekspor NTB mengalami penurunan drastis sebesar 74,10 persen dibandingkan 2024.
Penyebab utamanya adalah kosongnya ekspor konsentrat tembaga (bahan mentah) dari PT AMMAN sejak Januari 2025.
Namun, di tengah kontraksi ekspor tambang, ekspor non-tambang justru melonjak gila-gilaan hingga 1.671 persen.
Kenaikan ini sangat besar karena tahun lalu hasil smelter (emas dan tembaga) belum ada.
“Karena sudah berbentuk jadi emas atau katoda, ini bukan lagi hasil tambang, tapi hasil industri," jelas Wahyudin.
Kenaikan ekspor non-tambang hasil hilirisasi ini menjadi harapan baru, di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi daerah yang sebelumnya sempat mengalami kontraksi.
Wahyudin menambahkan, izin ekspor konsentrat tambang telah keluar per Oktober 2025, yang diharapkan dapat menyehatkan kembali total angka ekspor di akhir tahun.
Sebelumnya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) resmi memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Rekomendasi tersebut diterbitkan pada 31 Oktober 2025.
Rekomenasi tersebut memberikan izin AMNT untuk mengekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering (dmt).
Izin yang berlaku hingga April 2026 ini menjadi dasar krusial bagi Kementerian Perdagangan untuk segera menerbitkan Surat Persetujuan Ekspor (SPE).
Baca Juga: Pantai Tanjung Aan Dipenuhi Sampah Laut, ITDC Kerahkan Pasukan Kebersihan
Editor : Siti Aeny Maryam