Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ekonomi NTB Menggeliat, Tanpa Tambang Triwulan III Tumbuh 7,86 persen

Geumerie Ayu • Kamis, 6 November 2025 | 19:51 WIB

Aktivitas tambang PT Amman di Kabupaten Sumbawa Barat, beberapa waktu lalu.
Aktivitas tambang PT Amman di Kabupaten Sumbawa Barat, beberapa waktu lalu.
LombokPost - Setelah dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi, perekonomian NTB kembali menunjukkan performa positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan III 2025 mencapai 2,82 persen secara tahunan (yoy).

Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, capaian ini memutus tren negatif Triwulan I yang terkontraksi 1,43 persen dan Triwulan II yang minus 0,82 persen.

"Ini adalah hal yang menggembirakan. Dari sisi year on year (tahunan), kita berhasil mencapai pertumbuhan positif 2,82 persen, ini sudah termasuk sektor pertambangan," ujarnya, Rabu (5/11).

Bila sektor pertambangan bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB melonjak drastis hingga 7,86 persen (yoy).

Angka ini diklaim jauh melampaui rata-rata nasional. Menunjukkan sektor kerakyatan di NTB memiliki fondasi yang sangat kuat dan terus meningkat.

"Artinya, sektor-sektor yang melibatkan banyak pekerja, seperti pertanian, perdagangan, dan pariwisata, menunjukkan angka yang positif. Sektor pertambangan (bijih logam) adalah satu-satunya lapangan usaha yang memberikan kontribusi negatif pada triwulan ini," jelas Wahyudin.

Secara komulatif (c to c), pertumbuhan ekonomi NTB dengan tambang sudah kembali positif 0,22 persen.

Sementara tanpa tambang, pertumbuhan C-to-C mencapai 6,55 persen. Secara kuartal (q to q), ekonomi NTB Triwulan III-2025 terhadap Triwulan II-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 3,91 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 40,71 persen.

Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 25 persen.

Menurut Wahyudin, kinerja positif Triwulan III didukung sejumlah sektor utama.

Mulai dari pertanian, produksi padi berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA), tercatat sebesar 381,14 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), melonjak 37,15 persen (yoy).

Kenaikan drastis ini sedikit tertahan oleh penurunan produksi jagung sebesar 21,35 persen.

Sektor Akomodasi (Pariwisata), jumlah tamu yang menginap di hotel bintang dan non-bintang mencapai 842.029 orang.

Tumbuh pesat 28,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor Transportasi, jumlah penumpang angkutan udara yang berangkat tercatat 375.373 orang, meningkat 2,25 persen.

Terakhir, Belanja Pegawai, realisasi di APBD provinsi dan kabupaten/kota pada triwulan ini juga lebih tinggi. Jumlahnya diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun.

Sektor pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang memberikan kontribusi negatif pada Triwulan III 2025.

Hal ini disebabkan oleh penurunan nilai ekspor luar negeri yang tercatat USD 395,95 juta.

Diakibatkan oleh terhentinya ekspor konsentrat hasil tambang hingga September 2025 karena adanya larangan ekspor bahan mentah.

Namun, terdapat kabar baik, relaksasi ekspor konsentrat telah berlaku mulai Oktober 2025.

Sehingga Wahyudin optimis Triwulan IV akan menunjukkan angka yang jauh lebih baik.

"Jika ekspor tambang ini berjalan rutin di Triwulan IV, kita optimistis pertumbuhan ekonomi bisa melesat lebih tinggi, bahkan berpotensi menutup target 7 persen secara kumulatif," tandasnya.

Karo Perekonomian Setda NTB Najamudin Amy mengatakan, NTB cukup tegar karena pertumbuhan ekonominya tidak terkontraksi di triwulan III 2025.

Sedangkan dua triwulan sebelumnya mengalami kontraksi.

Terkait relaksasi ekspor tambang, pemerintah memang mengeluarkan rekomendasi awal Oktober, namun itu baru bisa dihitung di triwulan IV pada Februari 2026 mendatang.

Pertumbuhan ekonomi 2,28 persen ini merupakan lompatan positif dari sebelumnya terkontraksi 0,82 persen.

“Saya senang karena 16 lapangan usaha itu tumbuhnya positif semua, kemarin ada di kuartal II itu ada yang negatif selain tambang,” jelasnya.

Data BPS tersebut, kata mantan kepala Dinas Kominfotik NTB ini sangat penting untuk mengambil keputusan.

 “Insya Allah triwulan IV kita tidak terlalu kuatir karena PT Amman sudah ekspor,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#tambang #Pertumbuhan Ekonomi NTB #BPS NTB #Triwulan III 2025