Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kinerja Investasi Tiongkok Melambat Signifikan

Redaksi Lombok Post • Minggu, 16 November 2025 | 21:49 WIB

lustrasi aktivitas ekspor-impor, konflik perdagangan AS-Tiongkok terus mengancam perekonomian global. (Dok.JawaPos.com)
lustrasi aktivitas ekspor-impor, konflik perdagangan AS-Tiongkok terus mengancam perekonomian global. (Dok.JawaPos.com)
LombokPost -- Perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terus menimbulkan kekhawatiran. Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) melaporkan adanya penurunan tajam dalam kinerja investasi pada Oktober, bertepatan dengan kontraksi dalam konsumsi dan aktivitas manufaktur.

Berdasarkan laporan lembaga tersebut, realisasi investasi aset tetap (Fixed-Asset Investment/FAI) mengalami kontraksi sebesar 1,7 persen selama periode Januari hingga Oktober tahun ini.

Penurunan ini semakin tajam jika dibandingkan dengan kontraksi pada periode Januari–September yang tercatat 0,5 persen. Angka ini juga jauh melampaui estimasi survei Reuters yang hanya memperkirakan kontraksi sebesar 0,8 persen per Oktober tahun ini.

Baca Juga: Ini Biodata Liu Xiao Xu Aktor Drama Pendek Asal Tiongkok yang Berkharisma

Tiongkok terakhir kali mencatatkan kontraksi investasi aset tetap pada masa pandemi 2020 lalu. Khusus pada capaian Oktober, kinerja investasi aset tetap anjlok 11,4 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Raksasa finansial Goldman Sachs menilai penurunan ini sebagai konsekuensi dari upaya pemerintah Tiongkok dalam mendorong sektor manufaktur hingga mencapai tahap overkapasitas.

Penurunan investasi aset tetap ini utamanya disebabkan oleh sektor properti dan infrastruktur. ”Turunnya investasi aset tetap ini memang karena sektor properti dan infrastruktur. Investasi properti selama 10 bulan pertama turun 14,7 persen,” jelas Zhiwei Zhang, chief economist dari Pinpoint Asset Management.

Aktivitas manufaktur Tiongkok per Oktober juga tercatat jatuh ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh libur panjang nasional pada 1 hingga 8 Oktober. ”Pertumbuhan investasi manufaktur masih belum merata. Kebanyakan merupakan investasi dari badan usaha milik negara,” tulis Yuhan Zhang, ekonom dari Conference Board's China Center, dalam catatan resminya.

Baca Juga: Pabrikan Mobil Dunia Berebut Pasokan Logam Tanah Jarang, Efek Larangan Ekspor Tiongkok

Dari sisi inflasi, indeks harga konsumen (IHK) mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen secara year on year. Ini merupakan tingkat inflasi terkuat sekaligus pertumbuhan harga pertama sejak Juni. Sementara itu, kinerja ekspor Tiongkok akhirnya mengalami pemangkasan pertama dalam dua tahun terakhir, sebuah kondisi yang dinilai sebagai dampak nyata dari perang dagang yang kembali memanas dengan Amerika Serikat (AS).(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#investasi #tiongkok