LombokPost – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB secara serius memulai program pelatihan penguatan UMKM dengan fokus pada dunia digital.
Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia mengatakan, pelatihan digital marketing, adalah agenda perdana yang dipilih karena pengamatan langsung terhadap kualitas promosi produk lokal di media sosial.
“Kami sering banget menemukan banyak produk-produk yang bagus, tetapi tampilannya untuk di media itu kurang,” ujar Sinta dalam pelatihan digital marketing di Pendopo Gubernur NTB, Kamis (20/11).
Perempuan berhijab ini mencontohkan penggunaan tagline ketika memasarkan produk di sosial media.
Ketika UMKM menggunakan tagline tertentu di media sosial, hasilnya akan memunculkan banyak toko secara bersamaan.
Menurutnya, hal yang akan menentukan produk mana yang diklik pertama adalah kualitas video dan visual yang menarik perhatian.
“Misalnya Tenun Bayan, yang paling menarik pasti akan dibuka. Itulah salah satu alasan kenapa kita hari ini belajar digital marketing,” tegasnya.
Pelatihan kali ini merupakan gelombang pertama.
Pihaknya sengaja melibatkan UMKM kelas menengah yang produknya sudah matang dan siap dipamerkan. Bukan UMKM yang masih harus membenahi produk dari nol.
Gelombang ini melibatkan 15 UMKM terpilih se-Pulau Lombok dan akan disusul dengan pelatihan di Pulau Sumbawa.
“Teman-teman UMKM nanti yang sudah mendapatkan ilmu hari ini bisa membagi lagi pada teman-teman UMKM yang belum terpilih,” tandasnya.
Narasumber pelatihan Ingga Suwandana membenarkan temuan Ketua Dekranasda.
Ia menjelaskan permasalahan utama para pelaku UMKM di media sosial adalah ketidakkonsistenan dalam membuat konten.
“Kebanyakan UMKM itu lebih hard selling. Jadi cara-cara mereka masih tradisional,” beber Ingga.
Padahal, media sosial adalah channeling pemasaran yang gratis, mudah, dan memiliki audiens worldwide.
Kunci keberhasilan di media sosial, menurut Ingga membuat video yang engaging dan relate dengan kondisi audiens atau pasar.
“Harapannya adalah begitu mereka bisa bikin konten, terus kemudian mereka bisa konsisten. Penjualan mereka naik, otomatis perekonomian juga naik, itu juga akan bagus untuk NTB secara keseluruhan,” jelasnya.
Tantangan terbesar adalah algoritma media sosial yang selalu berubah, dan setiap platform memiliki karakteristik yang berbeda.
Namun, hal terpenting yang harus dilalui UMKM adalah proses menemukan platform mana yang paling cocok untuk produk mereka.
“Selama kita konsisten, usaha itu akan jalan,” katanya.
Sebab itu, Ingga sepakat bahwa pelatihan semacam ini untuk UMKM harus berkelanjutan.
“Proses belajar kita tidak pernah bisa berhenti,” pungkas Ingga.
Editor : Pujo Nugroho