Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Oktober yang tercatat 14,4 persen YoY.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 24,2 persen YoY serta uang kartal beredar yang naik 13,1 persen YoY,” ujar Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Kamis (5/12).
Secara tren, posisi uang primer yang telah disesuaikan tersebut relatif stabil dari Desember 2024 yang berada pada Rp 2.027,33 triliun. Artinya, sepanjang tahun hanya terjadi kenaikan 5,37 persen.
Baca Juga: Bank Indonesia Dorong Generasi Muda Berdaya Kunci Menuju Indonesia Emas
BI menjelaskan bahwa angka M0 adjusted merefleksikan kondisi likuiditas yang sudah mengisolasi dampak penurunan giro perbankan di BI akibat pemberian insentif likuiditas maupun langkah pengendalian moneter.
Otoritas moneter juga mencatat, cadangan devisa RI meningkat menjadi USD 150,1 miliar pada akhir November 2025, naik dari USD 149,9 miliar pada bulan sebelumnya. Kenaikan cadangan devisa tersebut bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran 3 bulan impor.
“Cadangan devisa ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tutur Denny.
Editor : Redaksi Lombok Post