Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Investasi Triliunan di NTB Belum Maksimal Serap Tenaga Kerja

Geumerie Ayu • Senin, 8 Desember 2025 | 20:41 WIB
LAYANI TAMU: Karyawan restoran sebuah hotel di kawasan Mandalika, Lombok Tengah menyajikan hidangan yang dipesan tamu.
LAYANI TAMU: Karyawan restoran sebuah hotel di kawasan Mandalika, Lombok Tengah menyajikan hidangan yang dipesan tamu.

LombokPost – Kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB menjadi sorotan serius di tengah masifnya investasi skala besar yang masuk.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat TPT naik dari 2,73 persen pada 2024 menjadi 3,06 persen pada 2025.

“Ada kenaikan sekitar 0,33 persen,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin.

Menurut Wahyudin, fenomena ini dipengaruhi karakteristik investasi yang masuk ke NTB. Invetasi NTB saat ini didominasi oleh sektor padat modal dan bukan padat karya.

Terutama di pertambangan dan smelter (PT AMNT dan PT AMIN), itu kebanyakan berupa belanja barang modal, bukan padat karya.

“Investasi triliunan tersebut lebih dari 50 persen adalah padat modal, sehingga pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja sangat kecil,” sambungnya.

Kenaikan TPT ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dan lapangan kerja yang tersedia.

Wahyudin memaparkan, jika tambahan angkatan kerja mencapai 7-8 persen. Sementara tambahan orang yang bekerja hanya 5 persen, maka selisih 2-3 persen inilah yang menambah jumlah penganggur.

Diakui sektor pariwisata, seperti di Mandalika juga menyerap tenaga kerja melalui pembangunan hotel dan akomodasi.

Namun dampaknya dinilai belum cukup kuat untuk menekan laju pengangguran yang terus bertambah.

“Penyerapan di sektor ini sebagian besar diisi pekerja yang sudah aktif, bukan penyerapan besar-besaran angkatan kerja baru,” jelasnya.

Untuk mengatasi jurang penyerapan tenaga kerja ini, BPS NTB mendesak pemerintah daerah agar mengarahkan investasi pada sektor hilirisasi. Hilirisasi tidak hanya di sektor tambang, tetapi juga hasil pertanian.

Pada hilirisasi tambang, hasil tembaga, emas, dan perak dari smelter dapat dikembangkan menjadi industri kreatif, seperti pengolahan emas menjadi perhiasan.

Sedangkan hilirisasi pertanian, NTB memiliki potensi besar dengan proyeksi produksi 1,7 juta ton jagung pipilan kering pada akhir tahun ini.

“Sayangnya, di NTB kita belum punya industri atau pabrik pakan ternak. Padahal kita punya potensi cukup besar,” tandasnya.

Editor : Marthadi
#investasi #Tenaga Kerja #NTB #BPS NTB