Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB Aidy Furqon mengatakan, pemicu fenomena ini adalah kekhawatiran masyarakat akan tersedotnya stok pangan oleh program MBG.
Masyarakat mulai menunjukkan reaksi berlebih saat melihat Gerakan Pangan Murah (GPM) maupun stok di pasar tradisional.
"Masyarakat sekarang suka beli stok berlebih karena khawatir disalip oleh stok untuk MBG," tegasnya.
Kekhawatiran masyarakat ini dianggap sebagai sinyal, regulasi pengadaan pangan saat ini sudah tidak lagi relevan.
Formulasi pengadaan pangan yang selama ini mengacu pada PP 17 Tahun 2015 dan Peraturan Badan Pangan Tahun 2023 dinilai sudah kedaluwarsa, karena disusun sebelum program MBG dicanangkan.
"Tahun 2023 lalu belum ada variabel MBG. Sekarang kondisi berubah total, maka formula intervensi pangan kita juga harus berubah,” sambungnya.
“Kita harus merespons ketakutan warga agar kebutuhan pangan tidak memicu lonjakan inflasi yang tidak terkendali," imbuh mantan Kadis Dikbud NTB ini.
Lebih lanjut dikatakan Aidy, rapat evaluasi pengadaan beras dan gabah, Senin (15/12), menjadi momentum penting untuk menyusun peta jalan pangan tahun 2026.
Pemerintah daerah ditekankan untuk tidak hanya fokus pada ketersediaan, tetapi juga pada distribusi yang adil.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Hario K Pamungkas mengatakan, menghadapi potensi gejolak harga Bapok, BI NTB telah memberikan sejumlah rekomendasi.
Di antaranya, mengantisipasi komoditas tertentu yang harganya fluktuatif bahkan naik.
“Mulai dari aneka cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur ayam,” ujarnya.
Pelaksanaan GPM juga harus dilakukan secara 3T (tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat sasaran), terutama untuk komoditas Volatile Food menjelang nataru.
TPID harus memastikan kelancaran logistik dengan ketersediaan armada yang cukup.
Kemudian industrialisasi melalui penguatan berbagai sektor. Selanjutnya, komunikasi kepada masyarakat berupa moral suasion, serta imbauan belanja bijak.
“Imbauan kepada masyarakat untuk belanja bijak dan mengelola ekspektasi atas ketersediaan bahan pokok,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida