LombokPost – Sejumlah produk kerajinan NTB masih tertinggal dibanding kreasi tetangga.
Terkait itu, Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal, mengakui kerajinan daerah sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
“Kita harus jujur, kerajinan NTB belum cukup terangkat dibanding Bali dan NTT. Jika ingin menembus pasar global, kuncinya hanya satu, benahi kualitas sekarang juga,” tegasnya, Jumat (19/12).
Sinta memotret fenomena kerajinan belum dianggap sebagai sandaran hidup yang menjanjikan.
Akibatnya, fokus perajin mudah goyah. Banyak penenun yang meninggalkan alat tenunnya saat musim panen tiba.
Terbaru, ada yang beralih profesi menjadi juru masak program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ini tamparan bagi kita. Artinya kerajinan belum bisa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga,” sambungnya.
Kondisi ini diperparah dengan ancaman punahnya kerajinan khas semisal cukli.
Selain faktor bahan baku, desain klasik cukli yang identik dengan furnitur besar mulai ditinggalkan generasi muda yang lebih menyukai gaya minimalis.
Dekranasda pun mendorong adanya desain ulang total tanpa menghilangkan nilai legendarisnya.
Dia turut mengajak perbankkan dan BUMN berkolaborasi memutus ketergantungan perajin pada praktik pembiayaan mencekik atau bank subuh.
“Jika dukungan keuangan sehat, mereka bisa kerja dengan nyaman dan fokus pada kualitas bahan baku,” jelasnya.
Sinta juga menyoroti celah fatal dalam rantai pemasaran, khususnya ekspor.
Selama ini, banyak produk kerajinan NTB dikirim melalui provinsi lain sebelum terbang ke luar negeri.
Dampaknya, identitas NTB lenyap dan produk tersebut diklaim sebagai milik daerah eksportir.
“Orang tidak kenal itu dari NTB. Ini yang harus kita lawan dengan pendampingan agar pengrajin mampu ekspor mandiri atas nama daerah sendiri,” terangnya.
Persoalan-persoalan di atas yang melandasi komitmen Dekranasda NTB kini memperkuat kurasi dan pembentukan koperasi UMKM di sentra-sentra kerajinan.
Tujuannya, memastikan kerajinan NTB tidak hanya sekadar bertahan, tapi kembali berjaya dan memiliki identitas kuat.
Editor : Marthadi