Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

HSBC Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026

Redaksi Lombok Post • Senin, 12 Januari 2026 | 23:17 WIB

TERUS BERGERAK: Karyawan memantau pergerakan harga saham di salah satu Sekuritaa di Jakarta, beberapa waktu lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan naik 34,8 poin (0,51 persen) ke level 6.864. Kapi
TERUS BERGERAK: Karyawan memantau pergerakan harga saham di salah satu Sekuritaa di Jakarta, beberapa waktu lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan naik 34,8 poin (0,51 persen) ke level 6.864. Kapi

LombokPost – Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diprediksi tetap berada dalam tren positif, meski diperkirakan akan sedikit di bawah target yang ditetapkan pemerintah.

HSBC Global Research memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional akan mencapai angka 5,2 persen secara tahunan (year-on-year).

Proyeksi tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok pada angka 5,4 persen.

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, sekaligus ASEAN Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, mengimbau pemerintah untuk mewaspadai potensi perlambatan di sejumlah sektor, khususnya kinerja ekspor.

Menurutnya, momentum penguatan ekspor yang terjadi pada 2025 kemungkinan besar tidak akan berlanjut sepenuhnya.

“Pada 2025, ekspor sangat kuat karena banyak negara melakukan percepatan pengiriman,, terutama akibat kekhawatiran kenaikan tarif yang lebih tinggi. Faktor ini membuat ekspor pada 2026 berpotensi melemah dan perlu diwaspadai,” ujar Pranjul dalam pengarahan media secara daring, Senin (12/1/2026).

Baca Juga: DPRD Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi NTB Semester Kedua, Optimistis Lebih Melejit Lagi 2026

Ruang Fiskal dan Kebijakan Moneter

Kendati ada risiko di sektor ekspor, HSBC menilai kebijakan pemerintah masih akan bersifat akomodatif untuk menjaga stabilitas pertumbuhan. Dengan potensi perbaikan PDB nominal, pemerintah diyakini memiliki ruang fiskal yang memadai guna mengoptimalkan belanja negara tanpa melampaui batas defisit anggaran yang ditentukan.

Sebagai informasi, defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92 persen terhadap PDB, sedikit di atas target awal sebesar 2,78 persen. “Jika pertumbuhan PDB nominal membaik, penerimaan pajak juga berpotensi meningkat,” jelas Pranjul.

Dari perspektif moneter, Bank Indonesia (BI) diprediksi masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan melalui penurunan suku bunga acuan. Namun, langkah tersebut akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Penguatan Konsumsi Rumah Tangga

Pranjul juga menekankan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional. Ia menggarisbawahi bahwa peningkatan daya beli hanya dapat dicapai melalui perbaikan struktur upah dan perluasan lapangan kerja.

“Tidak ada jalan pintas. Reformasi sektor manufaktur dan peningkatan investasi asing menjadi kunci untuk mendorong konsumsi rumah tangga,” pungkasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
#PDB #Pertumbuhan Ekonomi #hsbc