Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Inflasi NTB Tembus 3,86  Persen, Emas Jadi Penyebab Utama

Geumerie Ayu • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:06 WIB

PENYEBAB INFLASI: Warga yang tengah membeli emas di salah satu toko emas di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
PENYEBAB INFLASI: Warga yang tengah membeli emas di salah satu toko emas di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
LombokPost – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi bulanan Januari 2026 sebesar 0,27 persen. Angka ini, bersama dengan inflasi tahunan (yoy) sebesar 3,86  persen, secara mengejutkan melampaui rata-rata inflasi nasional.

Lonjakan harga emas perhiasan dan komoditas perikanan menjadi biang kerok utama penekan daya beli masyarakat di awal tahun ini.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan andil inflasi tertinggi, sebesar 0,17 persen.

Di dalamnya, emas perhiasan menjadi komoditas paling dominan dengan andil 0,18 persen. "

Bayangkan, dari total inflasi bulanan kita yang 0,27 persen, emas perhiasan saja menyumbang lebih dari separonya. Ini kenaikan yang sangat signifikan," ujar Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB M Ahyar, Senin (2/2).

Tak hanya emas, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga ikut menyumbang kenaikan sebesar 0,10 persen.

Cuaca buruk di perairan NTB sepanjang Januari ditengarai menjadi penyebab minimnya pasokan ikan di pasar.

Akibatnya, harga ikan layang, ikan bandeng, dan ikan teri melonjak dan masuk dalam daftar lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi.

Fenomena menarik terjadi pada tiga wilayah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di NTB. Kota Mataram justru mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,21 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Sumbawa yang mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,80 persen. Disusul Kota Bima dengan inflasi bulanan 0,61 persen.

“Inflasi di Kabupaten Sumbawa jauh di atas angka provinsi,” sambungnya.

Kabar baik datang dari sektor transportasi. Kelompok ini mengalami deflasi 0,7 persen berkat adanya kebijakan diskon tiket angkutan udara.

Selain itu, komoditas "pedas" seperti cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah yang sempat meroket pada November lalu, kini mulai mendingin dan memberikan andil deflasi yang cukup signifikan.

Melihat tren tahunan, inflasi sebesar 3,86  persen ini tergolong tinggi. Terutama jika dibandingkan Januari 2025 yang sempat menyentuh angka negatif (-0,55 persen) akibat intervensi tarif listrik kala itu.

Pemerintah daerah kini diminta memasang mode waspada. Berdasarkan siklus tahunan, Maret yang bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri selalu menjadi puncak kenaikan harga.

"Inflasi Januari yang cukup tinggi ini harus menjadi perhatian serius dan warning bagi kita semua. Intervensi pasar perlu diperkuat sebelum kita memasuki bulan puasa agar daya beli masyarakat tetap terjaga," tandasnya.

Pantauan harga komoditas pangan di pasar tradisional saat ini mulai menunjukkan adanya kenaikan.

Seperti komoditas cabai rawit, saat ini sudah menyentuh angka Rp 70 ribuan per kilogramnya. Jumlah ini naik dari sebelumnya masih kisaran Rp 30-40 ribuan per kilogram.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida mengatakan, kenaikan tersebut cukup signifikan dibandingkan kondisi normal.

“Biasanya harga cabai rawit berada di kisaran Rp 30 ribuan per kilogram. Kenaikan ini sudah terjadi secara bertahap,” ujarnya.

Menurut Sri, faktor utama lonjakan harga dipicu minimnya pasokan cabai di pasar. Saat ini, stok cabai di Mataram masih sepenuhnya bergantung pada hasil pertanian lokal. Sementara pasokan dari Pulau Jawa belum masuk.

Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap cabai.

Sementara distribusi dari luar daerah mengalami keterlambatan. Situasi ini membuat pedagang kesulitan menjaga stabilitas harga di tingkat eceran.

Editor : Kimda Farida
#EMAS #daya beli #Inflasi NTB #ikan