Penyedia indeks global tersebut memutuskan menangguhkan review indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026, dengan alasan ketidakpastian penetapan free float emiten di tengah proses reformasi pasar modal nasional.
Dalam pengumuman resminya, Senin (9/2), FTSE Russell menyatakan keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan masukan dari External Advisory Committees. Fokus utama mereka adalah menghindari risiko perputaran portofolio yang merugikan akibat data free float yang dinilai belum sepenuhnya akurat.
“Menanggapi masukan dari Komite Penasihat Eksternal dan mempertimbangkan potensi perputaran yang merugikan serta ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia pada Maret 2026,” tulis manajemen FTSE Russell.
Penundaan ini terjadi di tengah komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan transparansi pasar modal, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui publikasi rencana aksi pada 5 Februari 2026.
Aksi Korporasi Tertahan, IPO Baru Menunggu
Keputusan FTSE Russell tersebut mengacu pada skema Exceptional Market Disruption. Dampaknya, sejumlah perubahan indeks saham Indonesia dibekukan sementara, termasuk:
- Tidak ada penambahan saham baru dari IPO maupun hasil review rutin
- Tidak ada penghapusan emiten dari indeks
- Tidak ada perubahan segmentasi kapitalisasi (large, mid, small cap)
- Penyesuaian teknis seperti jumlah saham beredar, bobot investability, hingga rights issue diasumsikan dijual tidak diterapkan
Namun demikian, aksi korporasi mendesak seperti delisting, merger, akuisisi, suspensi, serta aksi non-penambahan modal seperti stock split dan pembagian dividen tetap berjalan.
Baca Juga: Kinerja Indosat 2025: Laba Bersih Tumbuh 12,2 Persen, Pendapatan Capai Rp56,5 Triliun
BEI Angkat Bicara
Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa FTSE Russell sejatinya mendukung langkah penguatan integritas pasar yang dilakukan BEI dan OJK.
“FTSE mendukung rencana aksi yang kami jalankan. Mereka hanya menekankan agar implementasinya sesuai dengan lini masa yang telah ditetapkan,” ujar Jeffrey.
Ia juga menambahkan bahwa tidak ada kekhawatiran terkait klasifikasi negara, yang tetap dijadwalkan diumumkan pada 7 April 2026.
IHSG Terancam Uji Support
Secara teknikal, meski IHSG ditutup menguat 1,22 persen ke level 8.031,87 pada Senin (9/2), sentimen dari FTSE Russell berpotensi memicu aksi jual investor institusi global.
- Support: 7.863
- Resistance: 8.100
Tanpa katalis positif kuat dari dalam negeri, ruang penguatan IHSG dinilai terbatas dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menunggu kejelasan lanjutan dari FTSE Russell, yang menjanjikan pembaruan informasi sebelum pengumuman review kuartalan pada 22 Mei 2026.
Editor : Marthadi