Angka ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2024 yang hanya di level 3,95 persen.
"Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi total NTB memang tercatat di angka 3,22 persen. Namun, jika kita melihat pertumbuhan tanpa sektor tambang, angkanya mencapai 8,54 persen. Jadi sangat jauh bedanya dengan pertumbuhan secara keseluruhan," jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Hario K Pamungkas, Senin (23/2).
Pesatnya pertumbuhan sektor non-tambang ini memicu BI untuk memperkuat daya dukung. Terutama pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hario menegaskan, untuk menjaga momentum ini tetap stabil, BI memfokuskan dukungan pada tiga kelompok komoditas strategis.
Di antaranya, komoditas pengendali inflasi yang fokus pada ketahanan pangan masyarakat. Komoditas unggulan daerah dengan mengangkat potensi lokal agar memiliki daya saing nasional.
Komoditas ekspor dan pendukung pariwisata dengan memperkuat rantai pasok yang menunjang sektor pelesiran.
Hario menggarisbawahi, sektor pariwisata adalah prioritas utama. Melalui pnguatan komoditas pendukung pariwisata, sumbangsih sektor ini terhadap struktur ekonomi daerah diharapkan kian dominan dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, NTB dinilai memiliki modal sosial dan ekosistem syariah yang sangat kuat. Keberadaan Bank NTB Syariah menjadi motor utama yang harus dioptimalkan untuk menyentuh sektor ekonomi kreatif dan desa wisata.
"Kami di Bank Indonesia berupaya menjadi mak comblang antara UMKM, termasuk pengelola desa wisata, dengan lembaga keuangan yang mau memberikan pembiayaan, khususnya melalui skema syariah," jelas Hario.
Langkah ini diambil untuk memutus kebuntuan akses komunikasi yang sering dialami pelaku UMKM saat berhadapan dengan perbankan.
Baca Juga: Menkeu Beri Sinyal THR Pensiunan PNS Tahun Ini Cair Lebih Awal, Siap-siap Cek Rekening
Melalui upaya ini, desa-desa wisata di NTB diharapkan berkembang melalui dukungan pembiayaan yang tepat sasaran.
"Dengan sinergi ini, kami sangat optimistis NTB dapat terus meningkatkan ketahanan ekonomi daerahnya dan memberikan kesejahteraan yang lebih merata," terang Hario.
Penetrasi pembiayaan syariah ini diharapkan tidak hanya menyentuh modal kerja. Namun juga meningkatkan kualitas produk UMKM agar mampu menembus pasar global.
Sekaligus menjaga marwah NTB sebagai destinasi wisata halal unggulan.
Editor : Kimda Farida