LombokPost- Tradisi berburu baju Lebaran di Mataram kembali menggeliat menjelang Idulfitri. Aktivitas berburu baju Lebaran di Mataram tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga terbukti mampu mendongkrak ekonomi NTB secara signifikan.
Sejak memasuki pekan terakhir Ramadan, pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional dipadati warga. Lonjakan aktivitas berburu baju Lebaran ini menjadi indikator kuat meningkatnya konsumsi masyarakat dan perputaran ekonomi di NTB.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram) Muhammad Mujahid Dakwah mengungkapkan, bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi pendorong utama ekonomi daerah. Data Bank Indonesia Perwakilan NTB mencatat, kebutuhan uang kartal mencapai Rp 3,07 triliun.
Angka tersebut meningkat 27,48 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,41 triliun. Bahkan, total uang yang disiapkan mencapai Rp 3,3 triliun. Lonjakan ini mempertegas bahwa berburu baju Lebaran di Mataram berkontribusi besar terhadap ekonomi NTB.
Tidak hanya sektor fesyen, peningkatan konsumsi juga terjadi pada kebutuhan lain seperti makanan, parcel, hingga perlengkapan rumah tangga. Namun, sektor pakaian tetap menjadi primadona selama Ramadan.
Kota Mataram sendiri menjadi pusat perputaran ekonomi terbesar di NTB dengan kontribusi mencapai 71,10 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas berburu baju Lebaran tidak hanya berdampak pada pedagang besar, tetapi juga menggerakkan pelaku UMKM.
Salah satu contohnya terlihat pada bazar Ramadan di kawasan Udayana. Selama 13 hari pelaksanaan, kegiatan ini mampu mencatat perputaran ekonomi hingga Rp 780 juta. Angka tersebut menegaskan kuatnya dampak tradisi berburu baju Lebaran di Mataram terhadap ekonomi lokal.
Menurut Mujahid, berburu baju Lebaran bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Aktivitas ini mampu menghidupkan sektor perdagangan, khususnya UMKM fesyen dan ritel.
“Ramadan dan Idulfitri memang menjadi momentum ekonomi. Banyak sektor terdampak, mulai dari pakaian, kuliner, hingga transportasi,” jelasnya.
Di sisi lain, pola berburu baju Lebaran di Mataram juga mengalami perubahan. Selain belanja langsung di toko, masyarakat kini mulai memanfaatkan platform digital seperti marketplace.
Meski demikian, toko fisik tetap ramai dikunjungi. Sejumlah toko pakaian di Mataram terlihat dipadati pembeli dari siang hingga malam. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman belanja langsung masih menjadi pilihan utama masyarakat.
Sementara itu, tren belanja online juga terus meningkat. Aktivitas kurir pengiriman paket terlihat melonjak menjelang Lebaran, menandakan tingginya transaksi digital selama periode ini.
Bagi pelaku usaha, momentum berburu baju Lebaran menjadi periode paling krusial dalam setahun. Banyak pedagang mengandalkan momen ini untuk mengejar target penjualan.
Dengan tingginya aktivitas konsumsi, tradisi berburu baju Lebaran di Mataram kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak ekonomi NTB. Tidak hanya menjadi simbol perayaan, tradisi ini juga menjadi denyut utama yang menghidupkan pasar dan usaha masyarakat.
Editor : Redaksi Lombok Post