Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Upaya Menjaga Stabilitas Harga Pangan di NTB: Inflasi NTB di Atas Nasional, Rawit Jadi Biang Kerok

Geumerie Ayu • Jumat, 3 April 2026 | 11:57 WIB
PENYUMBANG INFLASI: Warga yang tengah membeli cabai rawit dan sayuran di Pasar Mandalika, Mataram, belum lama ini. (FERIAL/LOMBOK POST)
PENYUMBANG INFLASI: Warga yang tengah membeli cabai rawit dan sayuran di Pasar Mandalika, Mataram, belum lama ini. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost - Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) di NTB pada Maret 2026 masih di atas rata-rata target nasional. Secara year on year (tahunan), inflasi NTB bahkan melampaui target sasaran yang ditetapkan pemerintah.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, secara month to month (bulanan) inflasi NTB tercatat sebesar 0,81 persen. Jumlah ini lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 0,41 persen.

Sementara itu, inflasi tahunan menyentuh angka 4,09 persen. Persentase ini berada di luar rentang kendali pemerintah yang dipatok pada 2,5 plus minus 1 persen (1,5 hingga 3,5 persen).

Baca Juga: Cabai Rawit dan Emas Bikin Inflasi NTB Lampaui Target Rentang Nasional

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi. Besaran inflasinya mencapai 1,92 persen secara bulanan dengan share sebesar 0,72 persen. Lonjakan ini dipicu tingginya permintaan selama Ramadan. "Komoditas utama seperti cabai rawit dan tomat mengalami kenaikan harga yang signifikan. Cabai rawit bahkan sempat menyentuh harga Rp 200.000 per kilogram akibat gagal panen yang dipicu faktor cuaca," ujarnya Rabu (1/4).

Selain cabai dan tomat, tiga komoditas lain yang masuk dalam lima besar penyumbang inflasi bulanan adalah kol/kubis, daging ayam ras, dan terong. Kenaikan harga daging ayam, disebabkan pasokan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan total masyarakat NTB. “Sehingga masih bergantung pada distribusi dari Jawa Timur,” sambungnya.

Tren kenaikan harga ini sangat mengkhawatirkan. Namun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB yang berkolaborasi dengan Bank Indonesia dan Bulog bergerak cepat mendatangkan pasokan cabai rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Langkah ini efektif meredam harga yang kini melandai ke kisaran Rp 60.000 per kilogram.

Baca Juga: Kilau Emas Bebani Inflasi di Kota Mataram 

NTB sejatinya memiliki champion cabai di Lombok Timur. Namun sebagian besar produksinya telah terikat kontrak untuk memenuhi kebutuhan nasional. “Ini salah satu penyebab harga naik,” terangnya.

Di tengah tekanan harga pangan, sektor transportasi justru mengalami deflasi 0,13 persen. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memberlakukan subsidi dan potongan harga tiket pesawat serta angkutan laut.

Meski angka 4,09 persen (yoy) tergolong tinggi, angka tersebut sebenarnya sudah menunjukkan tren penurunan dibandingkan Februari 2026 yang sempat menyentuh 5,37 persen. "Harapan kita April ini laju inflasi terus melandai sehingga bisa kembali masuk ke dalam range target pemerintah," jelasnya.

Baca Juga: Inflasi NTB Tembus 3,86  Persen, Emas Jadi Penyebab Utama

Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan inflasi tinggi sebesar 21,60 persen. Fenomena ini didorong meningkatnya aktivitas masyarakat, khususnya kaum wanita, yang mendatangi salon menjelang hari raya. “Karena bobot pengeluarannya lebih kecil dibanding pangan, andilnya terhadap inflasi total hanya sebesar 1,33 persen,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram turun ke Pasar Kebon Roek, Pagesangan, dan Mandalika untuk memantau harga. Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida mengatakan, harga masih berfluktuasi.

Pada H-1 Lebaran Topat, harga cabai rawit sempat turun ke angka Rp 80.000 per kilogram. Namun setelah Lebaran Topat melonjak kembali hingga menembus Rp 100 ribuan per kilogram. "Peningkatan harga itu kemungkinan karena beberapa pengepul cabai belum sepenuhnya beroperasi normal," katanya.(fer/r6)

Editor : Redaksi
#Stok Komoditas #Ketahanan Pangan NTB #Inflasi NTB #distribusi logistik #harga pangan