Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stop FOMO, Investasi Pasar Modal Bukan Cara Cepat Kaya

Geumerie Ayu • Selasa, 7 April 2026 | 20:04 WIB
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana (DOK/LOMBOK POST)
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana (DOK/LOMBOK POST

LombokPost - Fenomena investasi di pasar modal kian digandrungi masyarakat, khususnya generasi muda.

Namun, di balik kemudahan akses teknologi dan aplikasi digital, tersimpan risiko besar bagi mereka yang terjun tanpa bekal literasi yang cukup.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyoroti fenomena investor pemula yang sering kali terjebak dalam arus tren media sosial atau yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).

Baca Juga: Kasus Saham BEBS, OJK Tetapkan Eks Direktur Investment Banking Mirae Asset Sekuritas

"Jangan sampai membeli saham hanya karena viral di Instagram atau TikTok, lalu saat harganya turun justru panik. Banyak investor pemula melakukan kesalahan yang sama di awal perjalanan mereka," ujarnya.

Menurut Sandiana, kesalahan utama yang kerap dilakukan adalah berinvestasi tanpa tujuan keuangan yang jelas.

Banyak yang sekadar ikut-ikutan tanpa menetapkan apakah dana tersebut untuk kebutuhan jangka pendek seperti biaya menikah, atau jangka panjang seperti dana pensiun. 

Baca Juga: Dugaan Manipulasi IPO, OJK Freeze Saham Rp 14,5 Triliun di Mirae Asset Sekuritas

"Tujuan investasi sangat menentukan strategi, jangka waktu, dan tingkat risiko yang dapat ditoleransi. Semakin jelas tujuannya, semakin mudah menentukan instrumen yang tepat," jelasnya.

Ada beberapa poin krusial yang sering diabaikan investor pemula. Di antaranya, membeli saham hanya berdasarkan rekomendasi pihak tertentu tanpa melakukan bedah fundamental perusahaan melalui laporan keuangan resmi di kanal BEI.

Kemudian kurangnya diversifikasi. Investor pemula menempatkan seluruh modal pada satu jenis instrumen saja (all-in). Sehingga risiko kerugian menjadi sangat tinggi saat sektor tersebut anjlok.

Baca Juga: Bursa Saham Korea Selatan Mendadak 'Lumpuh', Indeks KOSPI Terjun Bebas 11 Persen Akibat Perang!

“Selain itu, ada ketidakkonsistenan, semangat hanya di awal namun tidak rutin melakukan investasi berkala untuk memanfaatkan konsep compounding,” katanya.

Sandiana juga menekankan pentingnya manajemen risiko dan penggunaan dana yang tepat. Ia mengingatkan agar investor tidak menggunakan dana kebutuhan sehari-hari untuk bermain di pasar modal. "Fokus yang berlebihan pada potensi keuntungan tanpa mempertimbangkan kerugian dapat mendorong pengambilan keputusan yang kurang bijak. Dana yang digunakan sebaiknya merupakan uang dingin yang telah dialokasikan khusus untuk investasi," tegasnya.

Peningkatan literasi pasar modal menjadi kunci agar masyarakat NTB dapat berinvestasi secara bijak dan berkelanjutan. BEI NTB secara konsisten menyelenggarakan berbagai program edukasi, mulai dari seminar hingga sekolah pasar modal bagi masyarakat luas.

Diharapkan, ke depan investor pemula di NTB mampu membangun kebiasaan investasi yang lebih sehat, rasional, dan berorientasi jangka panjang. Karena investasi sejatinya adalah maraton, bukan lari cepat. "Investasi bukan tentang cepat kaya, tetapi tentang membangun kebiasaan finansial yang sehat. Investor yang sukses adalah mereka yang disiplin, sabar, dan terus belajar. Mulailah dari kecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari apa yang anda pahami," pungkasnya. (fer/r6)

Editor : Redaksi
#Investor #pemula #viral #bursa efek indoneia #saham