Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Astindo Desak Pemerintah Pangkas Pungutan Tambahan

Geumerie Ayu • Selasa, 14 April 2026 | 16:18 WIB
KEBERANGKATAN: Sejumlah wisatawan yang akan memasuki pintu keberangkatan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), beberapa waktu lalu. (DEWI/LOMBOK POST)
KEBERANGKATAN: Sejumlah wisatawan yang akan memasuki pintu keberangkatan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), beberapa waktu lalu. (DEWI/LOMBOK POST)

LombokPost - Tingginya harga tiket pesawat kini menjadi kerikil tajam bagi sektor pariwisata di NTB. Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB meminta pemerintah tidak hanya terpaku pada pengendalian harga avtur.

Namun juga berani memangkas berbagai pungutan tambahan yang selama ini membebani harga tiket.

Ketua Astindo NTB Sahlan M Saleh mengatakan, komponen tiket pesawat saat ini menjadi beban terbesar bagi wisatawan. Ia mencontohkan tiket rute Lombok-Jakarta. Harganya melonjak tajam hingga menembus angka jutaan Rupiah dan secara langsung menekan minat perjalanan.

Baca Juga: Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Tiket Pesawat Cuma Boleh Naik 13 Persen! Ini Penjelasan Pemerintah

“Komponen tiket ini menjadi faktor yang sangat besar terhadap pertumbuhan wisata. Saya sendiri berangkat ke Jakarta, harga tiketnya sudah mencapai Rp 3,7 juta. Ini sangat berat bagi wisatawan,” ujar Sahlan.

Sahlan lantas meluruskan persepsi publik soal avtur sebagai biang keladi mahalnya tiket pesawat. Meski kenaikan harga avtur mencapai 40 persen, ia menyebut ada beban biaya sebesar 60 persen yang berasal dari komponen non-bahan bakar.

Berbagai pungutan tersebut akhirnya dibebankan kepada konsumen. Di antaranya, Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tiket, biaya garbarata, landing fee, dan biaya parkir pesawat, dan biaya handling di bandara.

Baca Juga: Mudik NTB 2026 Sukses Besar! Konsumsi Avtur Melonjak 27 Persen, Ternyata Ini Rahasia Pertamina Jaga Stok Tetap Aman

“Terlalu banyak biaya. Jika pemerintah ingin membantu masyarakat dan industri, maka komponen biaya yang begitu banyak ini harus dikurangi. Saya yakin harga tiket akan turun meski pun harga avtur naik, asalkan pungutan-pungutan ini dipangkas,” tegasnya.

Sahlan juga menanggapi usulan penggunaan transportasi laut sebagai alternatif akses ke NTB. Dia menilai hal tersebut hanya logis untuk rute jarak pendek seperti Bali-Lombok atau Surabaya-Lombok.

Bagi wisatawan dari kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Makassar, pesawat tetap menjadi urat nadi utama. Perjalanan laut untuk rute jauh dinilai tidak visibel secara waktu maupun kenyamanan bagi profil wisatawan mancanegara maupun domestik kelas menengah ke atas.

Baca Juga: Pertamina Jamin Ketersediaan Avtur untuk Penerbangan Haji Embarkasi Lombok, Siagakan 2.356 Kiloliter

Astindo NTB saat ini tengah gencar membidik pasar dari Singapura, Australia, Korea Selatan, dan China. Namun, isu harga tiket yang tidak stabil menjadi penghalang besar dalam upaya meningkatkan angka kunjungan.

“Sedikit saja ada isu soal harga, dampaknya sangat besar. Kami sudah menerima pesanan dari China hingga Februari, namun kami mulai khawatir untuk pemesanan pada bulan Mei dan Juni jika harga tiket terus melambung,” tambah Ketua BPPD NTB ini.

Selain masalah harga, sektor pariwisata NTB juga mulai merasakan imbas situasi geopolitik global. Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, bahkan kini Lebanon memicu kekhawatiran yang berujung pada sejumlah pembatalan (cancelation) perjalanan dari wisatawan internasional.

Menghadapi tantangan ganda ini, Astindo berupaya meredam isu negatif dan tetap menjaga citra pariwisata NTB sebagai destinasi yang aman. Namun, bantuan kebijakan dari pemerintah pusat menekan struktur biaya penerbangan tetap menjadi kunci utama, agar pariwisata NTB tetap kompetitif di pasar global. (fer/r6)

Editor : Redaksi
#astindo #NTB #pesawat #Tiket #Pariwisata