Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Purnama Artshop, Seperempat Abad Jaga Eksistensi Kriya

Geumerie Ayu • Rabu, 15 April 2026 | 08:51 WIB
JAGA EKSISTENSI: M Zaenuri Hamka, owner Purnama Artshop yang terus menjaga dan mengembangkan produk kriya Lombok Tengah. (DEWI/LOMBOK POST)JAGA EKSISTENSI: M Zaenuri Hamka, owner Purnama Artshop yang terus menjaga dan mengembangkan produk kriya Lombok Tengah. (DEWI/LOMBOK POST)

LombokPost - MEMPERTAHANKAN bisnis kerajinan tangan selama seperempat abad bukanlah perkara mudah.

Namun bagi M Zaenuri Hamka, bambu merupakan napas kehidupan dan identitas budaya yang ia jaga selama 25 tahun terakhir di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Pendiri Purnama Artshop yang berlokasi di Leneng, Kecamatan Praya ini, kini menjadi figur sentral bagi para perajin di Lombok Tengah.

Baca Juga: M Andi Ridhoan, Putra NTB Juara Nasional Kriya Kreativesia 2025, Buktikan Pemuda Berkarya Tembus Batas

Perjalanannya melewati asam garam industri kreatif menjadi bukti bahwa inovasi adalah harga mati untuk bertahan.

Zaenuri menekankan, musuh terbesar seorang perajin bukanlah persaingan pasar, melainkan rasa bosan dan cepat puas diri.

Menurutnya, kerajinan anyaman harus terus bertransformasi agar tetap dilirik, baik oleh kolektor lokal maupun pasar mancanegara.

Baca Juga: Juara Fashion Bima dan Kriya Sumbawa Siap Guncang Palembang, Bawa Nama Besar NTB Makmur Mendunia

"Saya berharap teman-teman perajin, baik pemula maupun senior, untuk terus berinovasi. Jangan cepat berpuas diri dengan hasil yang ada sekarang," jelasnya.

Kunci sukses Purnama Artshop terletak pada ketatnya kontrol kualitas. Zaenuri merinci beberapa teknik perawatan agar anyaman bambu tetap awet dan bernilai seni tinggi.

Di antaranya, menghindari penumpukan debu yang dapat merusak tampilan. Menyimpan produk di tempat kering untuk mencegah jamur, dan menjauhkan kerajinan dari sumber panas ekstrem agar serat alami bambu tidak pecah.

Baca Juga: Istri Wapres RI Beli Produk Kriya NTB, Bunda Sinta Sukses Angkat Citra Kriya NTB Pada Expo HUT Ke-45 Dekranas di Balikpapan

"Standardisasi produk dan teknik produksi yang tepat adalah harga diri seorang perajin. Kita bicara soal kualitas bahan baku hingga sentuhan akhir," sambungnya.

Zaenuri mengajak perajin lain untuk berkolaborasi, bukan berkompetisi secara tidak sehat. Ia aktif mendorong perluasan jaringan pemasaran melalui pameran dan pemanfaatan relasi baru.

Ia menegaskan bahwa perajin tidak boleh hanya mengandalkan pelanggan lama. Strategi jemput bola melalui promosi aktif sangat diperlukan agar jaringan pasar terus berkembang, mengikuti pepatah mati satu tumbuh seribu.

Bagi Zaenuri, menganyam bambu adalah bentuk pelestarian budaya. Ia kini getol membina generasi muda agar tongkat estafet. Dia juga mengingatkan perajin untuk aktif menjemput dukungan dari pemerintah daerah.

Bantuan berupa peralatan modern, pelatihan teknis, hingga pelibatan dalam pameran nasional dinilai sangat efektif mendorong skala produksi. "Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari pembinaan pemerintah untuk mendorong inovasi. Kita harus terbuka terhadap dukungan tersebut," pungkasnya. (fer/r6)

Editor : Redaksi
#UMKM #kriya #generasi muda #pelestarian budaya #bambu