LombokPost – Keberanian untuk terjun ke dunia usaha menjadi modal utama bagi kemajuan kesejahteraan pelaku UMKM NTB.
Namun, untuk mampu bersaing di level nasional hingga internasional, para pelaku UMKM diingatkan untuk segera membenahi aspek digitalisasi dan konsistensi kualitas produk.
Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal memberikan catatan penting mengenai tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha lokal saat ini.
Salah satu yang paling disoroti adalah rendahnya keaktifan pelaku UMKM di dunia digital.
Baca Juga: Suzuki Baleno, Hatchback Modern Berfitur Mewah yang Kompetitif
Perempuan berhijab ini menilai banyak produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas mumpuni dan merek yang jelas. Namun sayangnya kehilangan momentum pasar karena minimnya pembaruan di media sosial.
"Ada barangnya, ada mereknya, tapi tidak update. Foto hanya dua atau tiga, lalu hilang," ujar Bunda Sinta, sapaan akrabnya.
Sebagai solusi, ia mendorong para pelaku UMKM untuk memperkuat digitalisasi pemasaran produk.
Upaya ini diharapkan dapat membantu pengelolaan konten dan pemasaran produk yang dimiliki. Sehingga produk lokal lebih mudah ditemukan calon pembeli secara luas.
Selain digitalisasi, konsistensi kualitas produk menjadi perhatian serius. Bunda Sinta menyayangkan adanya tren penurunan kualitas ketika sebuah produk mulai dikenal masyarakat luas.
Inovasi juga menjadi harga mati untuk melindungi kekayaan intelektual lokal. Ia memberikan peringatan keras terkait produk unggulan, contohnya seperti kerajinan ketak.
Jika pelaku usaha tidak kreatif memberikan ornamen atau inovasi baru, daerah lain berpotensi mengambil produk NTB, menambah sedikit hiasan, dan mengklaimnya sebagai produk mereka.
“Inovasi berkelanjutan adalah benteng pertahanan terbaik agar identitas produk asli NTB tetap terjaga,” sambungnya.
Baca Juga: Farizon SV, Van Listrik 16-Seater yang Siap Geser Dominasi HiAce dan Elf
Terkait izin usaha dan hak paten, Bunda Sinta meminta pelaku UMKM membuang sikap skeptis terhadap prosedur birokrasi. Ia menegaskan, mengurus legalitas tidaklah semahal atau sekerumit anggapan orang selama ini.
"Langsung datang ke Kanwil Hukum dan HAM. Prosedur itu ada bukan untuk menyulitkan, tapi untuk menjaga produk Bapak dan Ibu agar tetap terlindungi," tegasnya.
Bunda Sinta juga mengapresiasi kaum perempuan yang mendominasi sektor UMKM di NTB.
Kegigihan perempuan dalam mengelola usaha diyakini berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan keluarga.
Ditambahkan, dirinya mengajak UMKM untuk lebih aktif menjalin komunikasi dengan dinas terkait dan Dekranasda kabupaten/kota.
Terutama pelaku UMKM di Pulau Sumbawa, untuk memastikan pendampingan yang tepat sasaran.
"Pelaku UMKM harus memancarkan sinyal, supaya radar kami (pemerintah, Red) bisa menangkap dan memberikan pendampingan yang tepat agar UMKM kita benar-benar naik kelas," pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa