LombokPost – Perang narasi antara konten kreator Ferry Irwandi dan Menteri Keuangan Purbaya menghangat setelah Menkeu memberikan respons melalui televisi nasional terkait analisis pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026. Menkeu Purbaya menyangkal bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen dikerek oleh belanja pemerintah, dan mengeklaim ekonomi tetap akan tumbuh tinggi dari sektor konsumsi dan investasi.
Merespons bantahan tersebut, Ferry Irwandi memilih untuk bersikap tenang dan tidak menanggapi serangan personal. Ia menyatakan ingin menguji klaim tebal (bold claim) yang dilontarkan oleh Menkeu menggunakan data konkret, bukan sekadar opini atau perdebatan narasi di media sosial.
"Oke, kita lupakanlah masalah ucapan kayak 'Anda tidak mengerti ekonomi', 'Anda membaca data salah', 'Anda ekonom atau bukan', ya udahlah kita civilized, namanya internet, ya kalau ada pejabat ngomong kayak gitu, let it slip aja. Ya kita jadi bigger person aja. Tapi pernyataan yang menyatakan bahwa tanpa belanja pemerintah yang besar-besaran, ekonomi juga akan tumbuh dengan tinggi. Itu yang harus dibuktikan, karena itu sebuah klaim yang sangat bold," kata Ferry.
Guna membuktikan kekeliruan logika Menkeu Purbaya, Ferry menggunakan metode counter-factual dengan model akuntansi. Ia merombak ulang rumus Produk Domestik Bruto (PDB) dengan mengembalikan persentase pertumbuhan belanja pemerintah ke angka normal rata-rata historis 10 tahun terakhir, yaitu sebesar 4,8 persen.
"Jika pertumbuhan government spending 21,8% diubah menjadi rata-rata diubah menjadi normal seperti 10 tahun belakangan 4,8%, Berapa sih real pertumbuhan ekonomi Indonesia?" tanya Ferry retoris sebelum menjabarkan hitungannya di tablet.
Dari perhitungan kalkulasi PDB Kuartal I yang dilakukannya, ditemukan data bahwa pertumbuhan ekonomi riil Indonesia tanpa adanya intervensi belanja ugal-ugalan pemerintah ternyata merosot tajam. Angka pertumbuhan tersebut langsung turun dari 5,61 persen menjadi hanya 4,63 persen.
"Hasil akhirnya adalah 4,62595 persen yang kalau kita bulatkan hasilnya adalah 4,63 persen. Jika Pak Purbaya di statement publik mengatakan ini salah satu yang tertinggi atau ini yang paling tinggi selama lima tahun, ini harus dirayakan, ini harus dibanggakan, inilah fakta sebenarnya, Pak. Inilah realitas sebenarnya. Kalau tidak government spending-nya normal sesuai dengan rata-rata 10 tahun, maka ini bukan salah satu yang paling tinggi, tapi salah satu yang paling buruk," cecar Ferry.
Ferry menambahkan bahwa dari total pertumbuhan ekonomi 5,61 persen saat ini, sumbangsih persentase poin dari belanja pemerintah sebenarnya sangat signifikan, yaitu sebesar 1,26 persen poin. Hal ini mematahkan argumen Menkeu yang menyebut porsi belanja negara kecil dan tidak berpengaruh signifikan.
"Jadi dari 5,61% ini, 1,26% pertumbuhan ekonomi itu datang dari government spending, teman-teman. Ketika kita breakdown satu per satu, kita akan melihat berapa signifikan angka 1,26% persentase poin ini, angka 21,81% ini, angka 6,72% ini. Jadi belanja pemerintah yang Bapak bilang kecil itu ternyata tidak sekecil itu," tandasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin