Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sebut Narasi "Rupiah Sengaja Dilemahkan Demi Ekspor" Sebagai Pembodohan, Ferry Irwandi: Kita Bukan Jepang!

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:26 WIB
PENDAPATAN: Ilustrasi uang rupiah yang mencerminkan potensi DBH yang diharapkan, dapat digunakan untuk mendukung pembangunan di Bumi Gora. (IVAN/LOMBOK POST)
Ilustrasi uang rupiah

 

LombokPost – Pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi belakangan ini memicu berbagai opini liar di tengah masyarakat. Salah satu narasi yang santer beredar mengeklaim bahwa melemahnya mata uang Rupiah merupakan strategi sengaja dari pemerintah untuk mendongkrak performa ekspor nasional.

Mendengar hal tersebut, pengamat ekonomi Ferry Irwandi secara tegas membantah dan menyebut narasi tersebut sebagai pembodohan publik. Ia menjelaskan bahwa strategi pelemahan mata uang secara sengaja (devaluasi) hanya bisa diterapkan secara efektif oleh negara maju yang memiliki basis ekspor barang jadi serta riset teknologi yang kuat.

"Cara nyapunya adalah, wah rupiah sengaja dilemahkan biar ekspor semakin meningkat dan orang berinovasi. Itulah kenapa lu perlu sekolah dan itulah kenapa lu perlu kuliah. Kelemahan mata uang itu mungkin dilakukan oleh negara yang mata uangnya terlalu kuat, yang R&D-nya udah jalan, yang produknya udah jalan, yang GDP-nya digerakkan oleh ekspor. Jepang misalnya," ujar Ferry dengan nada menyindir.

Ferry menambahkan, struktur ekonomi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada konsumsi domestik, bukan ekspor produk jadi berskala masif. Oleh sebab itu, membiarkan mata uang Rupiah melemah di tengah kondisi ekonomi saat ini dinilai tidak masuk akal dan justru akan membebani masyarakat.

"Nah, kalau mata uang lu udah lemah, ngapain dilemahin lagi? Produk jadi lu apa gitu? GDP masih digerakin konsumsi, jadi enggak masuk banget. Dan banyak yang percaya gitu," lanjutnya.

Di sisi lain, Ferry mengingatkan tantangan nyata yang sudah di depan mata pada bulan Juni dan Juli mendatang. Kombinasi antara melemahnya nilai tukar Rupiah dan ketegangan geopolitik global diproyeksikan akan membuat beban subsidi energi, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam APBN, membengkak secara drastis.

"Tentu Pak Purbaya tahu dan tim Pak Purbaya tahu. Beban subsidi bisa saja melonjak di bulan Juni atau Juli ini. Ketika harga minyak semakin tidak terkendali, kita berharap itu cepat selesai masalah geopolitik, perang dan kelangkaan minyak dan lain sebagainya. Tapi kalau itu tetap terjadi, berarti kalau beban subsidi kita juga bertambah dengan rupiah melemahkan, berarti beban yang harus ditanggung fiskal kita juga lebih berat," terang Ferry.

Ferry mengimbau Menteri Keuangan Purbaya beserta timnya untuk menyampaikan kondisi ekonomi nasional apa adanya kepada publik tanpa perlu menutup-nutupi fakta lapangan dengan metode pemilihan data tertentu (cherry picking).

 

Baca Juga: Uji Klaim Menkeu Purbaya, Ferry Irwandi Buktikan Ekonomi RI Hanya Tumbuh 4,63% Tanpa Belanja Jumbo

"Makanya Kalau masukan saya sendiri, ya ngomongin aja yang benar. Ya gimana masih banyak kok poin yang bisa diunggulkan, strength-nya, opportunity-nya, tanpa harus menglorifikasi, melebih-lebihkan atau melakukan cherry picking untuk membanggakan diri. Nah, itu yang harus dihindari sebenarnya," tutup Ferry.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#pelemahan nilai tukar rupiah 2026 #kritik subdisi BBM #dampak rupiah melemah #ferry irwandi