LombokPost – Langkah strategis untuk membawa produk kriya NTB menembus pasar internasional terus dilakukan.
Salah satunya, percepatan penguatan legalitas hukum produk berupa Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) kain tenun Muna Pa’a asal Dompu.
Sertifikasi IG menjadi kunci utama untuk mendongkrak brand value atau nilai jual kain Tenun Muna Pa’a. Sehingga dapat menarik minat lebih banyak pembeli dari pasar nasional hingga pasar ekspor global.
Baca Juga: Dobrak Standar Flagship, Inilah Spesifikasi Mengerikan Xiaomi 17 Max
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB I Gusti Putu Milawati menegaskan, penguatan data lapangan orisinal merupakan syarat mutlak sebelum dokumen resmi diajukan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) di Jakarta.
Langkah ini krusial agar karakteristik tenun Dompu yang khas tidak luntur atau diklaim daerah lain.
“Data mengenai linimasa sejarah, karakteristik benang dan motif, detail proses produksi, hingga keterkaitan sosial budaya masyarakat lokal wajib digali secara komprehensif,” ujarnya, Jumat (22/5).
Baca Juga: PNM dan BRI Life Perkuat Literasi Keuangan Nasabah Mekaar di Mataram
“Ini adalah fondasi utama dokumen deskripsi Indikasi Geografis agar Tenun Muna Pa’a Dompu memiliki proteksi hukum yang kuat dan tidak bisa dipalsukan,” sambung Milawati.
Dijelaskannya, kepemilikan sertifikat IG ini akan memberikan dampak signifikan pada margin keuntungan perajin.
Konsumen global dan pasar premium cenderung berani membayar harga tinggi untuk produk kriya yang keaslian geografis serta mutunya dijamin resmi hukum negara.
Baca Juga: BYD Seal 6 DM, Sedan Hybrid Sporty dan Elegan
Dalam menyusun dokumen deskripsi yang kuat, tim Kanwil Kemenkumham NTB telah memetakan ekosistem produksi dari hulu hingga hilir di IKM Mart Dompu.
Pemetaan dimulai dari ketersediaan kain tenun lembaran (raw material) hingga aneka produk turunan siap jual yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Seperti pakaian jadi dan aksesori modern,” katanya.
Menariknya, gerai IKM Mart ini tidak hanya difungsikan sebagai etalase pemasaran ritel. Lokasi ini telah diintegrasikan sebagai pusat edukasi tenun bagi masyarakat luas. Bahkan menjadi destinasi wisatawa domestik hingga mancanegara.
Baca Juga: Pedas Nikmat Nasi Bejek Viral di Mataram, Pembeli Rela Antre Satu Jam Sebelum Kedai Dibuka
“Tidak hanya belanja produk turunan, wisatawan juga bisa melihat langsung proses produksi kain tradisional tersebu,” jelasnya.
Tim juga mengunjungi Desa Ranggo, wilayah yang diyakini sebagai tempat awal lahir dan berkembangnya Tenun Muna Pa’a Dompu.
Di desa ini, tim melakukan diskusi mendalam dengan Umi Hazrah. Dia adalah sosok pelopor sekaligus pelatih tenun generasi pertama setempat.
Baca Juga: Smartwatch Garmin Instinct 3, Desain Maskulin dan Baterai Monster Standar Militer
Sebagian besar perajin tenun di Desa Ranggo merupakan petani aktif. Aktivitas menenun dijalankan secara berdampingan dengan kalender pertanian sebagai pilar ganda penopang stabilitas ekonomi rumah tangga.
Komoditas ini menuntut ketekunan tinggi. Untuk merajut selembar kain Tenun Muna Pa’a yang dipenuhi detail motif rumit. Para penenun membutuhkan waktu intensif sekitar 5-7 hari.
Editor : Akbar Sirinawa