LombokPost – Gelombang pelemanan nilai tukar Rupiah yang kini terjerembap ke kisaran Rp 18.200 per Dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya memicu alarm bahaya di sektor riil ekonomi nasional. Di jagat maya, situasi ini memicu efek bola salju yang membuka kembali arsip perdebatan politik masa lalu.
Dalam beberapa hari terakhir, warganet di berbagai platform media sosial ramai-ramai melakukan screenshot dan mengunggah ulang (retweet) cuitan-cuitan lama dari akun resmi Partai Gerindra. Jejak digital saat partai berlambang kepala burung garuda itu masih konsisten berada di luar lingkar kekuasaan (oposisi), kini mendadak viral.
Sorotan tajam ini menggelinding deras lantaran dinilai kontras dengan realitas hari ini, di mana sang Ketua Umum, Prabowo Subianto, telah resmi menakhodai Indonesia sebagai Presiden Republik Indonesia.
Baca Juga: Dolar AS di Level Rp 18.134 Kian Melemah, Ujian Berat Koordinasi Moneter-Fiskal
Dulu Kritik Kurs Rp 14.000, Kini Rupiah Sentuh Rp 18.200
Salah satu unggahan lawas yang paling masif dibagikan ulang oleh publik adalah respons akun resmi @Gerindra pada tanggal 23 April 2018 silam. Kala itu, admin akun tersebut membalas keluhan seorang netizen terkait pergerakan kurs Dolar AS yang merangkak naik mendekati level Rp 14.000.
“Wah, sudah mau 14 ribu, ya? Padahal Presidennya bukan pak @prabowo,” tulis akun resmi Partai Gerindra delapan tahun lalu.
Cuitan satire tersebut kala itu diproduksi sebagai bagian dari amunisi kritik politik menyoroti performa ekonomi di era pemerintahan Presiden Joko Widodo menjelang Pilpres 2019. Kini, ketika mata uang Garuda mencatat rekor pelemahan yang jauh lebih dalam dibanding periode tersebut, publik pun ramai-ramai menagih konsistensi narasi yang pernah diembuskan.
Imbas Harga BBM Nonsubsidi yang Meroket Tajam
Tak berhenti di urusan mata uang, sumbu perdebatan di linimasa kian memanas setelah warganet menyeret arsip digital Gerindra tahun 2015 yang memprotes keras kebijakan penyesuaian harga energi dengan jargon: "KENAIKAN BBM SENGSARAKAN RAKYAT!".
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Mulai Tertekan
Unggahan tersebut kembali diputar oleh netizen seiring dengan rilis penyesuaian harga terbaru jajaran produk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU yang nilainya melonjak cukup signifikan.
Memasuki periode Juni 2026, PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian berkala terhadap lini bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidinya. Berdasarkan evaluasi harga pasar dan aspek komersial, harga Pertamax kini dibanderol di angka Rp 16.250 per liter. Sementara itu, bagi pengguna Pertamax Green 95, varian ini dipatok seharga Rp 17.000 per liter, dan produk high octane Pertamax Turbo berada di angka Rp 20.750 per liter. Untuk sektor mesin diesel, Pertamina menetapkan harga Dexlite sebesar Rp 23.000 per liter, sedangkan varian tertinggi yakni Pertamina Dex kini menyentuh harga Rp 24.800 per liter. Seluruh penyesuaian pada lima jenis BBM komersial ini sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar global dan regulasi harga keekonomian yang berlaku.
Catatan: Untuk BBM jenis bersubsidi, harganya terpantau masih ditahan pemerintah di angka Rp 10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp 6.800 per liter untuk Biosolar.
Batas Kritik Oposisi vs Realitas Global
Fenomena viralnya kembali dokumen digital ini memperlihatkan bagaimana di era modern, pernyataan politik tidak lagi selesai saat momentum pemilu berakhir. Di satu sisi, pengamat menilai fluktuasi ekonomi makro saat ini murni disebabkan oleh faktor eksternal berupa tingginya tensi geopolitik global dan kebijakan bank sentral AS yang mencekik hampir seluruh mata uang dunia.
Namun di sisi lain, publik menilai bahwa standar baku kritik yang dahulu digunakan untuk menghantam penguasa terdahulu, idealnya harus berlaku secara adil dan konsisten ketika tongkat estafet kepemimpinan itu kini sudah berpindah tangan.
Editor : Redaksi Lombok Post Online