LombokPost – Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi diberlakukan per Rabu (10/6). Hal tersebut memicu gelombang keluhan dari sektor transportasi informal di Kota Mataram.
Kenaikan drastis harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter dinilai sangat memberatkan para pengemudi ojek online (ojol) dan kurir jasa pengiriman paket.
Alasannya, pembengkakan biaya operasional harian yang tidak sebanding dengan pendapatan.
Bagi para pekerja jalanan, kenaikan harga kali ini terasa sangat mendadak dan di luar ekspektasi.
Hendra, salah satu driver ojol yang sudah hampir lima tahun menggantungkan hidup dari aplikasi transportasi daring, mengaku terkejut saat mengisi bahan bakar di SPBU pada pagi hari.
“Naiknya tinggi sekali. Biasanya kan paling cuma Rp 1.000 naiknya, ini sekarang Rp 3.000 lebih," keluh Hendra, Rabu (10/6).
Baca Juga: Alphard XE HEV Tawarkan Sensasi Berkendara Mewah yang Berkelas
Selama ini, Hendra setia menggunakan Pertamax untuk motor Honda Vario 150 cc miliknya demi menjaga performa mesin agar tetap awet dan irit.
Namun, dengan tarif baru ini, kalkulasi pengeluaran hariannya langsung berantakan.
Biasanya, Hendra menjatahkan Rp 40 ribu untuk ngojol sehari.
Baca Juga: Digitalisasi QRIS dan Transaksi Valas di NTB Meroket
Dengan harga sebelumnya Rp 12.300 per liter, dirinya bisa memperoleh sekitar tiga liter lebih.
Namun dengan harga baru, untuk mencapai tiga liter dirinya harus merogoh kocek hampir Rp 50 ribu.
“Itu yang saya bingungkan sekarang, ngojol seharian belum tentu dapat banyak uang,” katanya.
Demi menghindari risiko boncos (kerugian, Red), Hendra terpaksa mengambil keputusan dilematis yang kurang ideal bagi mesin motornya.
Baca Juga: Jiwa yang Tertukar, Ini 3 Alasan Wajib Nonton Drakor Reborn Rookie
"Terpaksa saya selang-seling dengan Pertalite ke depan. Kalau enggak, bisa boncos. Terpaksa dicampur-campur," sambungnya.
Keluhan senada diutarakan Agus, seorang kurir ekspedisi yang setiap hari menghabiskan waktu di jalan untuk mengantar paket.
“Pertamax naik, jadi makin berkurang saja pendapatan jadi kurir,” ucap Agus.
Para pekerja ini berharap pemerintah atau pihak aplikator segera mengambil langkah nyata, seperti penyesuaian tarif layanan.
Sehingga pendapatan bersih mereka tidak kian tergerus untuk menutupi biaya operasional.
Terpisah, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menegaskan, kebijakan penyesuaian harga ini telah mengikuti regulasi formula harga yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga: KY NTB Buka Pelaporan KEPPH Hakim Sidang Kasus Radiet
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi berkala. Harga jual tersebut diputuskan sebagai bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi berkualitas bagi masyarakat agar terus berjalan optimal,” terang Roberth.
Pihak Pertamina juga memastikan bahwa pasokan dan distribusi produk Pertamax Series tetap aman di seluruh jaringan SPBU nasional.
Informasi mengenai tarif terbaru dapat diakses masyarakat secara transparan melalui aplikasi MyPertamina atau kanal komunikasi resmi perusahaan.
Di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi, Pertamina menegaskan komitmennya untuk tetap menyalurkan BBM Bersubsidi (BBM Khusus Penugasan) tanpa ada perubahan harga demi menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Pertalite tetap seharga Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Baca Juga: Akademisi NTB Dukung Batasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol
Editor : Akbar Sirinawa