Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bank Indonesia Sebut BI Rate Dinaikkan demi Jaga Stabilitas Rupiah  

Geumerie Ayu • Senin, 15 Juni 2026 | 10:05 WIB
Kepala Bank Indonesia NTB, Hario K Pamungkas. (Ferial/Lombok Post)
Kepala Bank Indonesia NTB, Hario K Pamungkas. (Ferial/Lombok Post)

LombokPost – Kepala Bank Indonesia (BI) NTB Hario K Pamungkas menjelaskan terkait kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh angka 5,5 persen.

Hal ini merupakan upaya stabilitas moneter nasional di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang terus bergejolak.

Kenaikan ini diikuti dengan penyesuaian suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Serta suku bunga Lending Facility yang juga naik 25 bps ke level 6,25 persen.

Baca Juga: Bisa Kena Pidana! Bank Indonesia Larang Produsen Bikin Uang Mainan Mirip Rupiah Asli

Langkah agresif ini menegaskan komitmen kuat Bank Indonesia membentengi nilai tukar Rupiah dari tekanan eksternal yang kian berat.

Kebijakan menaikkan suku bunga acuan dalam rapat mingguan terbilang menarik perhatian publik.

Biasanya, Bank Indonesia mengumumkan penyesuaian BI Rate secara berkala pada saat RDG bulanan.

Baca Juga: Jiwa yang Tertukar, Ini 3 Alasan Wajib Nonton Drakor Reborn Rookie

Sebagai catatan, pada RDG bulanan terakhir yang berlangsung tanggal 19-20 Mei 2026, BI sebenarnya sudah menaikkan BI Rate sebesar 50 bps dari basis awal 5,25 persen.

Namun, kondisi pasar yang bergerak dinamis membuat otoritas moneter bergerak lebih cepat tanpa harus menunggu siklus bulanan berikutnya.

“Sesuai ketentuan, Bank Indonesia memang rutin mengadakan RDG mingguan setiap hari Selasa. Salah satu topik utamanya adalah mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG bulanan sebelumnya,” jelas Hario.

Baca Juga: Pertamina Pasok 3.160 Tabung Gas Melon Tambahan ke Dompu

Dari hasil evaluasi berkala tersebut, BI menemukan indikator nilai tukar Rupiah menunjukkan tren pergerakan cenderung lebih lemah dari proyeksi awal yang diperkirakan.

Sedikitnya ada tiga faktor krusial yang membuat mata uang Indonesia tertekan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Di antaranya, gejolak pasar global yang berlanjut, tingginya permintaan valas domestik, dan fenomena capital outflow.

Merespons akumulasi tekanan tersebut, Bank Indonesia memandang sangat perlu untuk segera menempuh langkah-langkah lanjutan.

Baca Juga: Puluhan IKM Olahan Pangan Lombok Timur Dapat Pelatihan  

Tujuannya, memperkuat benteng stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen ini dirancang sebagai instrumen pemikat daya tarik pasar keuangan domestik.

Dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, Bank Indonesia secara otomatis meningkatkan imbal hasil dari sejumlah instrumen investasi berbasis Rupiah.

Langkah insentif ini diharapkan mampu merangsang kembali masuknya aliran modal portofolio asing ke dalam negeri.

Baca Juga: Suzuki Fronx Sport Produksi Indonesia Meluncur di Malaysia

 “Diharapkan dengan peningkatan BI Rate menjadi 5,5 persen tadi bisa meningkatkan stabilisasi dari Rupiah,” katanya.

BI optimis tekanan mata uang Rupiah dapat diredam dengan baik.

Sehingga stabilitas ekonomi makro nasional maupun daerah, khususnya di wilayah NTB, tetap terjaga secara kondusif di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Suasana Malam di Kawasan Kuta Mandalika Hidup di Bazaar Kuliner

Editor : Akbar Sirinawa
#suku bunga acuan #Bank Indonesia #rupiah #bi rate #kebijakan