Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eco Fashion Unik, Produk Mina Tenun Lombok Digandrungi Turis Asing

Geumerie Ayu • Kamis, 18 Juni 2026 | 22:18 WIB
FINISHING: Para penenun Mina Tenun Lombok melakukan proses finishing dengan merajut produk, beberapa waktu lalu.( ISTIMEWA)
FINISHING: Para penenun Mina Tenun Lombok melakukan proses finishing dengan merajut produk, beberapa waktu lalu.( ISTIMEWA)

LombokPost – Sampah plastik kerap dipandang sebelah mata dan menjadi musuh utama lingkungan karena sulit terurai.

Namun, di tangan kreatif penenun di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, justru menjadi lembaran kain tenun eksotis yang sukses mendatangkan pundi-pundi Rupiah.

Mina Tenun Lombok,  kelompok sejumlah ibu rumah tangga setempat berhasil memadukan kearifan lokal menenun dengan konsep keberlanjutan.

Baca Juga: Sektor Pertanian Jadi Pelindung Ekonomi NTB  

Tidak hanya menjadi solusi cerdas mengatasi polusi lingkungan, melainkan juga melahirkan produk eco fashion unik yang jadi buruan wisatawan mancanegara.

Ketua Kelompok Mina Tenun Ani Apriani menuturkan, usaha ini bermula dari keprihatinan saat melihat tumpukan sampah plastik kresek yang dibuang percuma.

“Saya temukan banyak potensi di sini. Kondisi sampah plastik kresek yang terbuang itu sebenarnya 80 persen dalam keadaan bersih,” ujar Ani.

Baca Juga: Sinopsis Lengkap Drama Korea Love In Sync, Ketika Psikolog Populer Bertemu Seleb Mati Rasa

Desa Sukarara memiliki basis massa perempuan penenun yang keahliannya diwarisi secara turun-temurun.

Ani tertantang untuk melakukan uji coba ekstrem sejak tahun 2022. Ia mengganti benang katun konvensional dengan pintalan plastik kresek.

Berbagai fase trial and error dilalui. Setelah berhasil, produksi masal digulirkan sejak jelang Ramadan tahun 2023 lalu.

Baca Juga: MMO JVX GT, Motor Trail Listrik yang Viral Gegara Program Makan Bergizi Gratis, Cicilan Mulai dari Rp 400 Ribuan

Guna menjaga konsistensi rantai pasok bahan baku, Mina Tenun menjalin kemitraan strategis dengan Bank Sampah NTB Mandiri.

Melalui penyediaan fasilitas drop box di berbagai titik, masyarakat diajak menabung sampah plastik kresek kering.

“Kami menerima pasokan bahan baku sampah plastik kresek kering yang sudah disortir dan dibersihkan sekitar 10 hingga 20 kilogram per bulan dari bank sampah,” tambah Ani.

Mentransformasi kantong plastik menjadi lembaran kain tenun yang rapi tentu membutuhkan teknik khusus. Secara garis besar, proses produksinya melalui beberapa tahapan yang menuntut ketelitian.

Baca Juga: Kang Min Ah Bocorkan Rahasia 'Transfer Emosi' di Drama Korea Love In Sync

Pertama, plastik dibersihkan, kemudian dipotong memanjang sekitar satu sentimeter secara manual, lalu dirangkai menjadi pengganti benang.

Untuk kain tenunan plastik satu meter persegi rata-rata dibutuhkan 30-35 lembar sampah plastik.

Selanjutnya, bahan ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) khas Sukarara. Proses terakhir, kain tenun dirajut menjadi produk siap pakai.

Baca Juga: Srikandi PLN UP3 Selaparang Edukasi Warga Lombok Timur Gunakan PLN Mobile

Saat ini, Mina Tenun diperkuat sejumlah penenun lokal. Mengingat dasar keterampilannya sudah kuat, mengoperasikan ATBM dengan media plastik tidak menjadi kendala berarti bagi mereka.

 Tantangan terbesar hanyalah memodifikasi formula untuk menciptakan variasi motif baru yang lebih kompleks.

Kreativitas tanpa batas ini membuahkan hasil manis. Mina Tenun kini produktif menelurkan aneka kerajinan turunan modis.

Baca Juga: Buntut Kontroversi Distorsi Sejarah, Blu-ray Drama Korea 'Perfect Crown' Resmi Dibatalkan

Seperti tas jinjing, dompet, sarung bantal, hingga taplak meja dekoratif. Produk-produk upcycling ini dijual pada kisaran harga mulai dari Rp 175.000 per produk, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan rajutan.

Menariknya, pangsa pasar terbesar produk tenun plastik ini justru datang dari kalangan pelancong internasional.

Produk kreatif ini dipajang secara resmi di galeri Bank Sampah NTB Mandiri di Kota Mataram. 

“Konsumen lokal ada, tapi bule-bule dari luar negeri yang paling mendominasi. Ada tamu dari Belanda, Australia, Singapura, dan beberapa negara Eropa lainnya yang datang langsung ke galeri untuk membeli produk ini sebagai oleh-oleh eksklusif,” jelasnya.

Baca Juga: Progres Pengaspalan Jalan Lunyuk-Lenangguar Sudah Capai 100 Persen 

“Orang barat sangat mengapresiasi produk daur ulang, mereka sangat tertarik dengan cerita di balik pembuatannya. Kalau untuk ekspor secara langsung via kargo memang belum, tapi produk kami sudah dibawa terbang ke berbagai belahan dunia lewat tas para wisatawan,” pungkas Ani.

 

Editor : Akbar Sirinawa
#Eco Fashion #Mina Tenun Lombok #plastik #Ekonomi #tenun