LombokPost – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membeberkan kondisi simpanan Bank Umum di NTB.
Selama kuartal I 2026, nominal simpanan Bank Umum di NTB mencatatkan pertumbuhan yang melambat.
Berdasarkan data LPS, dinamika melambatnya tabungan ini sangat dipengaruhi pergeseran simpanan di berbagai kelas atau tiering nominal.
Baca Juga: Sinopsis Lengkap Drama Korea Love In Sync, Ketika Psikolog Populer Bertemu Seleb Mati Rasa
Kelompok penabung besar justru mencatatkan penurunan paling tajam secara bulanan.
Kepala Kantor Perwakilan LPS II Bambang S Hidayat mengatakan, secara tahunan (yoy) hingga Maret 2026, total pertumbuhan nominal simpanan Bank Umum di NTB bertengger di angka 4,38 persen.
Menariknya, pertumbuhan ini tidak merata di seluruh lapisan nominal saldo.
Baca Juga: Publik Geger, Victoria Eks f(x) Tampil Elegan dan Memukau di Hangzhou
Kelompok masyarakat dengan isi rekening kelas menengah justru menjadi motor penggerak pertumbuhan tertinggi secara tahunan.
Rincian performa tahunannya, simpanan dengan tiering Rp 1-2 miliar mencatatkan pertumbuhan tahunan paling meroket. “Melesat hingga 17,1 persen (yoy)” ujarnya.
Posisi tersebut kemudian diikuti tiering Rp 2-5 miliar dengan pertumbuhan yang cukup kuat sebesar 13,8 persen (yoy). Disusul kelompok saldo Rp 100-200 juta yang tumbuh sehat di angka 9,6 persen (yoy).
Baca Juga: Review Dracin Terbaru “The First Jasmine”, Kisah Cinta Emosional yang Menyembuhkan
Sementara itu, kelompok simpanan di bawah Rp 100 juta tercatat hanya tumbuh 5,2 persen (yoy). Sebuah capaian angka yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan beberapa kelompok saldo di atasnya.
Kondisi sebaliknya justru menimpa saldo besar dengan tiering di atas Rp 5 miliar.
Itu menjadi satu-satunya kelompok yang mencatatkan pertumbuhan negatif dengan penyusutan hingga minus 2,5 persen secara tahunan.
Melambatnya pertumbuhan dana perbankan di NTB semakin terlihat jelas secara bulanan.
Secara agregat, pertumbuhan nominal seluruh simpanan terkoreksi ke zona negatif, yakni minus 6,8 persen.
Faktor utama pemicu melambatnya pertumbuhan bulanan ini berasal dari penarikan dana besar-besaran segelintir nasabah besar.
Simpanan dengan nilai di atas Rp 5 miliar ambles hingga minus 21,5 persen.
Baca Juga: Arsenal Gigit Jari! Juventus Tolak Tawaran Rp 1,7 Triliun untuk Kenan Yildiz
“Penurunan tajam ini jauh lebih dalam dibandingkan kelompok-kelompok tiering simpanan lainnya yang cenderung masih bertahan positif,” katanya.
Sebagai perbandingan pada performa bulanan, posisi pertumbuhan tertinggi masih dipegang kelompok nasabah bersaldo Rp 1-2 miliar yang tumbuh positif sebesar 4 persen.
Sementara itu, saldo receh di bawah Rp 100 juta tumbuh merayap di angka 2,5 persen.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Menggila di Kandang, Kanada Cukur Qatar 6 Gol Tanpa Balas
Penurunan simpanan jumbo mengindikasikan para pelaku usaha berskala besar di NTB kemungkinan mulai mencairkan dana simpanan mereka di bank untuk dialihkan kembali ke sektor riil.
Ini menjadi sinyal positif ekspansi bisnis, investasi proyek, maupun aktivitas belanja modal korporasi di pariwisata dan perdagangan NTB paska kuartal I mulai bergeliat kembali.
Editor : Akbar Sirinawa