Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pebisnis Hiburan Malam Keluhkan Senggigi Kian Redup

Geumerie Ayu • Jumat, 26 Juni 2026 | 20:40 WIB
NIKMATI SUNSET: Wisatawan lokal di salah satu spot santai di Senggigi, Lombok Barat, belum lama ini. (IVAN/LOMBOK POST)
NIKMATI SUNSET: Wisatawan lokal di salah satu spot santai di Senggigi, Lombok Barat, belum lama ini. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost – Gemerlap Senggigi ini kian meredup. Sektor hiburan malam misalnya, kini sedang berjuang keras di fase kritis untuk bisa bertahan hidup.

Ketua Asosiasi Hiburan Senggigi Suhermanto membongkar realita pahit di lapangan. Jumlah tempat hiburan resmi yang masih beroperasi menyusut drastis, tinggal 15 usaha saja.

Suhermanto mengungkapkan adanya ketimpangan persaingan. Hal tersebut akibat maraknya usaha hiburan ilegal.

Baca Juga: SD Negeri di Mataram Berganti Nama, Regrouping Sekolah Mulai Diberlakukan

“Pemerintah sudah berusaha menertibkan mana yang legal dan ilegal. Tapi polanya seperti buka tutup. Ditindak sekarang, seminggu kemudian ramai lagi. Jelas ada oknum yang bermain di belakang itu,” jelas Suhermanto.

Kondisi ini kian diperparah oleh pergeseran tren gaya hidup masyarakat. Peta persaingan bisnis kini bergeser ke arah Kota Mataram dan wilayah sub-urban Lombok Barat. 

Ini terjadi melalui menjamurnya kafe-kafe modern di setiap sudut kota.

Baca Juga: SPMB SMPN 16 Mataram Masih Sisakan Banyak Kursi, Jalur Domisili Jadi Penentu

“Kafe kini telah bertransformasi menjadi lifestyle baru yang lebih mudah dijangkau oleh konsumen lokal, membuat kawasan Senggigi kian terisolasi dari daftar kunjungan malam,” sambungnya.

Selain itu, tantangan terbesar Senggigi saat ini, gagalnya kawasan dalam memaksa wisatawan untuk tinggal lebih lama.

Banyak pelancong yang datang ke Lombok hanya menjadikan Senggigi sebagai tempat perlintasan tanpa menginap.

Baca Juga: Marco Bezzecchi Tercepat di Assen, Marc Marquez Crash pada FP1 MotoGP Belanda 2026

Untuk memutus tren negatif tersebut, pihaknya mendorong pemerintah daerah melakukan langkah taktis.

Di antaranya, memperkuat konektivitas akses melalui pembukaan jalur penghubung strategis Senggigi dan Pusuk Lestari.

Pemerintah juga diharapkan mampu menciptakan paket wisata terintegrasi yang mengemas berbagai potensi alam unggulan menjadi satu kesatuan destinasi. Seperti Monkey Forest, Pura Batu Bolong, hingga Taman Wisata Alam Kerandangan.

Langkah ini kemudian disempurnakan dengan penegakan regulasi jalan raya yang tegas. Mulai dari pemasangan rambu pembatas kecepatan maksimal di sepanjang jalur utama.

Baca Juga: Lotim Kejar Produksi Padi Tujuh Ton

Hingga pengalihan rute konvoi komunitas motor ke jalur alternatif demi menjaga kenyamanan wisatawan.

Suhermanto menegaskan sektor hiburan tetap menjadi urat nadi pariwisata Senggigi yang tidak boleh dimatikan.

Tempat hiburan malam merupakan ruang interaksi sosial, budaya, dan hiburan yang paling dicari wisatawan mancanegara.

Baca Juga: Inspirasi dari Ali An Nuur, Mahasiswa Unram Pemenang Swift Student Challenge 2026

Editor : Akbar Sirinawa
#Asosiasi Hiburan Senggigi #Senggigi #Pariwisata Senggigi #hiburan malam #Hiburan