LombokPost – Menghadapi gempuran produksi masal kreasi pabrikan, UMKM lokal asal Lombok ini justru memilih cara tak biasa.
Waidah Mutiara Lombok memilih strategi limited edition atau edisi terbatas berbasis story telling yang berhasil memikat pembeli mancanegara.
Usaha yang diinisiasi Tutut Ruwaida sejak 2016 ini menjadi bukti nyata, narasi budaya lokal dapat diinkubasi secara profesional hingga bernilai komersial tinggi di pasar ekspor.
Mutiara air laut asal Lombok mengusung gradasi warna emas dan putih eksotis dipadukan dengan sentuhan narasi filosofis pada setiap desainnya.
Baca Juga: Surya Bakti Handycraft, Kerajinan Unik dari Batok Kelapa
Produk perhiasan seperti Bros Rintik Hujan maupun Bros Daun Monstera Adansonii menjadi karya seni yang membawa pesan emosional.
"Kami sengaja mempertahankan skala produksi yang terbatas untuk menjaga detail dan keunikan di setiap butir mutiara. Strategi ini justru melahirkan rasa kepemilikan eksklusif bagi konsumen pasar global, seperti di Spanyol, Jepang, hingga Tiongkok yang sangat mengapresiasi kualitas ketimbang kuantitas," ujar Tutut Ruwaida.
Lompatan kualitas dan jangkauan pasar Waidah Mutiara Lombok tidak lepas dari intervensi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB.
Berawal dari lolosnya Waidah dalam program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) pada 2018.
Bisnis rumah tangga ini mendapatkan pendampingan manajemen risiko, standarisasi produk, hingga penguatan legalitas usaha selama enam bulan intensif.
Kurasi ketat berlanjut melalui panggung Karya Kreatif Indonesia (KKI) serta pameran perhiasan bergengsi seperti Singapore International Jewelry Expo.
Tidak hanya pusat oleh-oleh di daerah, BI juga memfasilitasi digitalisasi melalui QRIS dan strategi pemasaran daring. Hal tersebut bertujuan untuk mendongkrak margin omzet bisnis secara signifikan.
Strategi yang diterapkan Waidah Mutiara Lombok menegaskan keberhasilan UMKM menembus pasar internasional membutuhkan sinergi utuh, antara otentisitas produk dan strategi bisnis global.
Pemanfaatan kanal digital memungkinkan mereka berkomunikasi langsung dengan pembeli asing tanpa menghilangkan identitas kultural produknya.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post