Batu Bata Hingga Kemangi Tahan Laju Deflasi NTB

Ferial Ayu • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 05:30 WIB
ILUSTRASI: Batu bata, salah satu komoditas yang menekan laju deflasi di NTB berdasarkan data BPS NTB, Senin (3/8). (FERIAL/LOMBOK POST)
ILUSTRASI: Batu bata, salah satu komoditas yang menekan laju deflasi di NTB berdasarkan data BPS NTB, Senin (3/8). (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – NTB secara umum membukukan deflasi bulanan 0,35 persen pada Juli. Namun laju penurunan harga konsumen tersebut sebenarnya tertahan kenaikan harga sejumlah barang non-pangan dan jasa penunjang.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatatkan kenaikan material bangunan, penyesuaian BBM non-subsidi, hingga biaya pendidikan cukup terasa di masyarakat.

Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan harga tertinggi secara bulanan dari 11 kelompok pengeluaran.

Kelompok ini mengalami inflasi 0,96 persen dengan andil terhadap angka provinsi sebesar 0,11 persen.

Baca Juga: Jawa Tengah Masih Magnet Investasi, Perusahaan Australia Tanamkan USD 350 Juta di Batang

 "Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dari Pertamina menyumbang inflasi dengan andil 0,05 persen. Kenaikan BBM ini berimbas langsung pada komoditas pendukung kendaraan seperti pelumas atau oli mesin yang juga memberi andil inflasi 0,05 persen," terangnya, Senin (3/8).

BPS NTB mencatat sejumlah komoditas unik dan spesifik lokal yang mengalami lonjakan harga pada Juli. Di antaranya, komoditas batu bata, bimbingan belajar (bimbel), sate dan kemangi, hingga hasil perikanan.

untuk batu bata, sektor konstruksi kembali menggeliat pascamusim hujan. Baik dari pembangunan perumahan swadaya masyarakat maupun proyek fisik pemerintah.

Hal ini mendorong kenaikan harga batu bata dengan andil inflasi 0,04 persen.

Baca Juga: Senator Evi Apita Maya Tanamkan Nilai Kebangsaan Lewat Seni Budaya di SMAN 9 Mataram

Konsumsi kuliner lokal mendorong kenaikan harga sate di Mataram. Di Kota Bima, kelangkaan pasokan daun kemangi di pasar tradisional membuat harganya melonjak drastis dan menyumbang inflasi daerah.

Di Kota Mataram, momentum pendaftaran perguruan tinggi dan sekolah kedinasan memicu lonjakan tarif lembaga bimbingan belajar (bimbel).

Hasil perikanan berupa Ikan layang (benggol) dan ikan teri turut menyumbang andil inflasi masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,04 persen akibat faktor cuaca perairan.

Secara tahunan, laju inflasi NTB  3,01 persen. Angka ini mengalami penurunan cukup menggembirakan dibandingkan dengan Juni 2026 yang sempat menyentuh 3,55 persen.

Pada inflasi tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan lonjakan hingga dua digit sebesar 12,82 persen.

Namun, karena bobot penimbang kelompok pengeluaran makanan dan minuman jauh lebih besar, deflasi komoditas pangan tetap dominan menjaga stabilitas harga-harga secara keseluruhan.

Baca Juga: Inflasi NTB Melandai, Kota Bima Masih Jadi yang Tertinggi

Dengan capaian tersebut, tingkat inflasi NTB kini dipastikan sudah kembali masuk ke dalam rentang target sasaran inflasi pemerintah. Yakni 2,5 persen plus minus 1 persen atau berada di koridor 1,5-3,5 persen.

 "Bulan lalu angka kita sempat melompat keluar dari target. Namun per Juli ini sudah kembali melandai dan berada dalam batas aman," tegas Wahyudin.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
batu bata kemangi deflasi Inflasi Kenaikan Harga