LombokPost – Pemerintah optimistis bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia yang terjadi baru-baru ini hanya bersifat sementara. Stabilnya harga minyak dunia diperkirakan bakal menjadi penopang utama untuk membawa neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus pada periode Juli 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa tekanan terhadap neraca perdagangan mulai mereda seiring dengan penurunan harga minyak global. Oleh karena itu, pemerintah meyakini kinerja perdagangan luar negeri akan segera pulih dalam waktu dekat.
”Kami optimistis kalau harga minyak mulai stabil, mudah-mudahan neraca perdagangan bulanan kembali surplus. Untuk kumulatif Januari–Juli, kami juga optimistis surplusnya akan semakin besar,” ujar Budi dalam Forum Bisnis Indonesia-Thailand di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Kinerja Ekspor Masih Tumbuh Positif
Di tengah tekanan harga minyak, Budi menegaskan bahwa kinerja ekspor Indonesia sebenarnya masih berada di jalur positif. Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, nilai ekspor tercatat tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Secara akumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I-2026 juga masih membukukan surplus sebesar 3,58 miliar dollar AS.
Meski demikian, Indonesia memang sempat mencatatkan defisit neraca perdagangan pada Mei dan Juni 2026. Namun, pemerintah mencatat tren perbaikan karena besaran defisit tersebut terus menyusut. Pada Mei, defisit sempat menyentuh angka 1,6 miliar dollar AS, sebelum akhirnya menipis menjadi 450 juta dollar AS pada Juni.
”Artinya, defisitnya sudah mulai turun dan surplus ekspor kita juga meningkat,” kata Budi.
Dampak Lonjakan Impor Migas dan Ekspansi Pasar
Budi menjelaskan, melonjaknya harga minyak dunia pada beberapa bulan sebelumnya menjadi faktor dominan yang menggerus surplus perdagangan nasional.
”Saat harga minyak sempat melonjak hingga USD 100–110 per barel pada Maret–April, nilai impor migas ikut membengkak sehingga menggerus surplus perdagangan. Kalau memperhitungkan dampak harga minyak, sebenarnya Mei dan Juni kita masih surplus,” paparnya.
Guna memperkuat ketahanan perdagangan luar negeri, Kementerian Perdagangan juga terus memacu perluasan pasar ekspor non-migas. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah mengoptimalkan kerja sama perdagangan dengan Thailand.
Pemerintah berencana meningkatkan volume ekspor sekaligus mendorong diversifikasi produk-produk unggulan Indonesia yang dipasarkan ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Jawa Pos