Di Tangan Dingin Jalaludin Ketak Tembus Pasar Global

Ferial Ayu • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:21 WIB
PRODUK UNGGULAN: Jalaludin menunjukkan produk kerajinan ketak yang ada di etalase bengkel kerja miliknya di Desa Saba, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. (IST/LOMBOK POST)
PRODUK UNGGULAN: Jalaludin menunjukkan produk kerajinan ketak yang ada di etalase bengkel kerja miliknya di Desa Saba, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost – Dari sudut Desa Saba, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, kesibukan para perajin anyaman tak pernah reda.

Di bawah naungan bengkel kerja sederhana, batang-batang tanaman ketak liar disulap menjadi aneka tas dan kerajinan berestetika tinggi.

Siapa sangka, karya indah yang kini merambah panggung internasional itu lahir dari tangan dingin seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Orang hebat itu adalah Jalaludin.

Jalaludin hanyalah seorang lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang mulanya tak memiliki dasar sebagai perajin. Pahit manis kehidupan pernah ia rasakan.

Baca Juga: Kesepakatan Selesai, Randal Kolo Muani Resmi Kembali Memperkuat Juventus

Termasuk empat kali bolak-balik keluar-masuk Malaysia lewat jalur ilegal untuk menjadi buruh kelapa sawit.

Merasa lelah menggantungkan nasib di negeri orang, ia akhirnya mantap pulang kampung dan memutar otak mencari peluang baru.

Awalnya, modal dari hasil memeras keringat di Malaysia ia gunakan untuk menjadi pengecer bahan baku ketak.

Namun, jalan bisnis tak selalu mulus. Jalaludin sempat terpuruk lantaran barang dagangannya banyak diutang pembeli hingga modalnya kian menipis.

Baca Juga: Batu Bata Hingga Kemangi Tahan Laju Deflasi NTB

Tak mau menyerah pada keadaan, ia mengubah strategi. Dirinya menampung hasil kerajinan warga sekitar untuk dipasarkan mandiri.

"Saya coba manfaatkan media sosial untuk promosi," kenangnya.

Langkah nekad itu membuahkan hasil manis. Pesanan perdana langsung datang dari pembeli asal Bali yang memboyong hingga dua ribu unit tas ketak. Momentum tersebut menjadi titik balik usahanya.

Kini, dibantu sang istri dan dua orang karyawan tetap, jangkauan pasar Jalaludin kian meluas. Produknya tak cuma menguasai pasar domestik seperti Bali, Jogja, dan Jakarta.

Namun juga menembus pasar ekspor di Inggris, Prancis, Korea, hingga negara-negara di Benua Afrika.

Kerja keras pantang menyerah ini terbayar tuntas. Dari usaha anyaman ketak di Desa Saba, Jalaludin kini sukses mengantongi omzet mencapai Rp 20 juta per bulan.

Baca Juga: Pertamina Pasok 7.600 Kiloliter BBM di NTB Melalui Integrated Terminal Ampenan

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Lombok Tengah perajin anyaman BISNIS ketak kerajinan