Ekonomi NTB Triwulan II 2026 Tumbuh 7,41 Persen Meski Melambat

Ferial Ayu • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 05:17 WIB
AKTIVITAS EKONOMI: Warga yang hilir mudik berbelanja di Pasar Selak, Kota Mataram, Rabu (5/8). (FERIAL/LOMBOK POST)
AKTIVITAS EKONOMI: Warga yang hilir mudik berbelanja di Pasar Selak, Kota Mataram, Rabu (5/8). (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengumumkan pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan II 2026 mencapai 7,41 persen secara tahunan (yoy).

Meski masih berada di tren positif, laju pertumbuhan ini melambat cukup tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang sempat meroket di angka 13,64 persen.

Kepala BPS NTB Wahyudin membeberkan, normalisasi pergerakan laju ekonomi ini dipicu dinamika pada dua sektor penyumbang terbesar. Yakni penghentian ekspor konsentrat dan berakhirnya puncak panen raya.

Sepanjang Triwulan I 2026, ekonomi daerah ditopang kuat relaksasi ekspor hasil tambang. Memasuki Triwulan II, aktivitas ekspor konsentrat hanya terjadi di bulan April.

Baca Juga: Kejari Lombok Tengah Selamatkan Rp 2,16 Miliar PAD dari Penunggak Pajak Kuta

“Kemudian terhenti total sepanjang Mei hingga Juni akibat habisnya masa izin ekspor,” ujarnya, Rabu (5/8).

Selanjutnya, sektor pertanian yang sempat tumbuh dua digit pada Triwulan I mulai melandai. Sisa panen di bulan April masih menopang sektor ini untuk tetap tumbuh lebih dari 2 persen, meski trennya menurun di bulan Mei dan Juni.

Jika diukur secara kuartalan (qtoq), laju pertumbuhan ekonomi NTB bergerak tipis sebesar 0,72 persen.

Dijelaskannya, BPS NTB juga membuat perhitungan khusus atas permintaan pemerintah daerah. Hal itu guna mengukur denyut ekonomi riil masyarakat tanpa mengandalkan komoditas ekstraktif.

Baca Juga: Dampak Tur Amerika Utara BTS Setara FIFA World Cup, HYBE Cetak Rekor Sejarah

Jika sektor pertambangan bijih logam dihilangkan, ekonomi NTB terbukti tetap tangguh dengan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,71 persen (yoy).

Angka ini menegaskan sektor-sektor domestik di luar tambang di NTB masih berputar dengan stabil.

Di tingkat nasional, perlambatan dari 13,64 persen menjadi 7,41 persen ini tidak menggoyahkan posisi strategis NTB.

Wahyudin memastikan NTB masih kokoh bertengger sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia. 

“Masih sama seperti sebelumnya, tepat berada di bawah Maluku Utara yang tumbuh di kisaran 13 persen,” tandasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
tambang Ekonomi NTB Pertumbuhan Ekonomi NTB ekspor konsentrat BPS NTB