BI Rate Naik, Aliran Modal Asing Masuk Capai 9 Miliar Dollar AS

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:24 WIB
Ilustrasi uang
Ilustrasi uang

LombokPost— Kebijakan pengetatan moneter yang ditempuh otoritas bank sentral mulai menunjukkan dampak positif terhadap stabilitas pasar keuangan nasional. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mulai membuahkan hasil.

Setelah BI rate dinaikkan total 100 basis poin (bps) dalam dua bulan terakhir, aliran modal asing (capital inflow) kembali deras masuk ke pasar keuangan domestik. Nilainya diperkirakan mencapai USD 8,5 miliar hingga USD 9 miliar.

Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, kebijakan menaikkan BI rate ditempuh untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah gejolak ekonomi global. Pada Mei hingga Juni 2026, pasar keuangan dunia menghadapi volatilitas tinggi, dipicu lonjakan harga minyak, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

”Kita memang menaikkan sekitar 100 basis poin BI rate. Tujuannya karena pada saat itu kondisi global sangat volatile, harga minyak tinggi, dan tekanan terhadap rupiah juga meningkat," ujar Destry di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Langkah penyesuaian tingkat suku bunga tersebut dinilai efektif meningkatkan imbal hasil aset keuangan domestik sehingga menarik minat investor global. Menurut Destry, kenaikan suku bunga tersebut bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan berbasis rupiah melalui penyesuaian harga (repricing).

Hasilnya mulai terlihat dari derasnya arus dana asing yang masuk, terutama ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). ”Di kuartal II kenaikannya cukup signifikan. Total sudah terjadi inflow sekitar USD 8,5 miliar sampai USD 9 miliar. Ini tentunya akan menambah cadangan devisa kita,” katanya.

Selain memperkuat cadangan devisa, masuknya modal asing turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat tertekan akibat ketidakpastian global.

Kendati ketatnya kebijakan moneter berpotensi membatasi likuiditas, pihak otoritas memastikan sektor riil dan perbankan masih berakselerasi dengan baik. Meski suku bunga naik, Destry memastikan kebijakan moneter tersebut belum mengganggu fungsi intermediasi perbankan. Penyaluran kredit masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.

“Kalau kita lihat, pertumbuhan kredit masih kuat. Pada Juni kemarin tumbuh di atas 12 persen,” ujarnya.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
bi rate suku bunga