LombokPost – Budi daya kurma di Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai memasuki babak baru.
Komoditas yang selama ini identik dengan buah bernilai ekonomi tinggi itu kini dikembangkan menjadi sumber pendapatan lain melalui penyadapan nira kurma.
Inovasi tersebut menjadi solusi untuk memanfaatkan pohon kurma hasil pembiakan biji yang tidak optimal menghasilkan buah.
Alih-alih ditebang atau dibiarkan tidak produktif, pohon tersebut justru diolah menjadi sumber bahan baku produk bernilai tambah.
Baca Juga: Rp 88,87 Miliar Uang Remitansi Mengalir ke NTB, Arab Saudi Jadi Penyumbang Terbesar
Arif Munandar, pelopor Kurma Ukhwah Datu Nusantara menjelaskan, kurma yang ditanam dari biji memiliki karakter genetik yang beragam.
Sebagian menghasilkan pohon jantan maupun betina dengan kualitas buah yang tidak memenuhi standar produksi.
“Kalau fokus produksi buah, bibitnya harus menggunakan teknik kultur jaringan agar panennya serentak dan kualitasnya seragam. Kalau dari biji, kualitasnya terbagi-bagi. Daripada pohon yang tidak produktif dibiarkan, makanya kita deres untuk menghasilkan nira,” jelasnya.
Menurut Arif, konsep tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pohon kurma hasil biji diarahkan untuk ditanam di kawasan perbukitan.
Baca Juga: Batal Dipinjamkan, Endrick Pilih Bertahan di Real Madrid demi Jose Mourinho
Dengan pola ini, satu hamparan perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas. Tapi menjalankan fungsi ekonomi dan lingkungan sekaligus.
Di antaranya, fungsi konservasi, sumber pendapatan dan agrowisata berbasis edukasi. Untuk konservasi, sistem perakaran kurma yang kuat dapat membantu memperkokoh struktur tanah.
“Mengurangi risiko erosi sekaligus mendukung upaya mitigasi ancaman banjir bandang di kawasan perbukitan,” sambungnya.
Sebagai sumber pendapatan masyarakat, Nira yang dihasilkan dari penderesan dapat dikembangkan melalui proses hilirisasi. Diolah menjadi berbagai produk, mulai dari gula kurma hingga cuka.
“Penderesan batang pohon kurma menjadi sumber pendapatan baru masyarakat melalui hilirisasi nira menjadi produk gula kurma hingga cuka,” katanya.
Aktivitas menderes pohon kurma yang masih tergolong langka dapat menjadi atraksi wisata. Sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung mengenai proses produksi nira.
Baca Juga: Profesor Berdampak Unram Bangkitkan Kembali Kopi Arabika Sembalun
Keunikan lainnya terletak pada teknik penyadapan. Jika pada pohon aren bagian yang disadap adalah mayang atau bunga, pada kurma justru bagian batang yang menjadi sumber nira. “Ini unik dan jarang ada di tempat lain,” jelasnya.
Potensi ekonomi semakin besar karena nira kurma dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Artinya, peluang bisnis tidak berhenti pada penjualan nira segar, tetapi dapat diperpanjang melalui rantai hilirisasi.
Konsep tersebut membuat pengembangan kurma di KLU memiliki model bisnis yang berbeda. Pohon yang kurang produktif menghasilkan buah tetap bisa produktif secara ekonomi.
Baca Juga: Lampaui Rekor Album Map of the Soul: Persona, BTS Cetak Sejarah Baru di Tangga Lagu Inggris
Arif mengatakan, ke depan pengembangan akan dibagi dalam dua model. Perkebunan kurma hamparan menggunakan bibit kultur jaringan diarahkan untuk produksi buah unggul sekaligus agrowisata.
Sementara kawasan perbukitan dengan kurma asal biji dikembangkan untuk fungsi konservasi, produksi nira dan wisata edukasi.
“Jadi dua kawasan ini memiliki fungsi berbeda, tetapi saling mendukung,” ujarnya.
Model tersebut berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru di tingkat masyarakat. Mulai dari pembibitan, perawatan tanaman, penderesan, pengolahan nira, produksi pangan olahan, hingga aktivitas wisata dapat melibatkan pelaku usaha lokal.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post