Unram Dampingi PEKKA Sigar Penjalin Sulap Pekarangan Jadi Sumber Pangan dan Penghasilan

Ivan.Mardiansyah • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10 WIB
Tim Universitas Mataram latih PEKKA Sigar Penjalin Lombok Utara sulap pekarangan jadi pertanian terpadu penghasil pangan dan uang.
Tim Universitas Mataram latih PEKKA Sigar Penjalin Lombok Utara sulap pekarangan jadi pertanian terpadu penghasil pangan dan uang.

 

LombokPost- Lahan mangkrak seluas 1.000 meter persegi milik kelompok PEKKA Sigar Penjalin di Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, Kabupaten Lombok Utara, kini resmi disulap menjadi kawasan pertanian terpadu penghasil pangan bergizi sekaligus sumber cuan baru bagi warga lokal.

Transformasi produktif ini digerakkan oleh tim pengabdi dari Universitas Mataram untuk menjawab persoalan keterbatasan gizi serta tingginya ketergantungan pasokan pangan luar desa yang selama ini menghimpit anggota PEKKA Sigar Penjalin. Kelompok yang didominasi para ibu rumah tangga dan pencari nafkah tunggal tersebut dibekali keterampilan mengelola sistem pertanian terpadu.

Sistem pertanian terpadu ini memadukan secara efisien budidaya sayuran pekarangan, ayam petelur dan pedaging, kolam ikan lele tandon air, hingga produksi magot. Model terintegrasi ini menjadi jawaban paling tepat mengatasi tantangan lahan kering di wilayah Lombok Utara.

Baca Juga: Inovasi Olahan Lele Lingsar Tembus Pasar Oleh-Oleh Khas Lombok

"Pekarangan yang dikelola secara intensif dan terintegrasi memungkinkan penyediaan pangan bergizi seperti sayuran segar, telur, daging ayam, dan ikan untuk konsumsi keluarga sekaligus menghasilkan surplus yang dapat dipasarkan," ujar Ketua Tim Pengabdi Universitas Mataram Novita Hidayatun Nufus.

Menurut Novita, kunci keberhasilan pertanian terpadu berada pada efisiensi pemanfaatan ruang dan daur ulang limbah. Limbah dapur rumah tangga anggota PEKKA Sigar Penjalin dikumpulkan untuk pakan magot, yang kelak diolah menjadi pakan alami bagi ternak ayam dan ikan.

"Integrasi budi daya sayuran di pekarangan dengan ternak ayam petelur dan ikan dalam tandon air menjadi solusi adaptif pada wilayah lahan kering karena efisien dalam penggunaan air dan ruang," tegas Novita.

Program pengabdian masyarakat yang didanai Kemdiktisaintek periode Juni hingga Agustus 2026 ini menitikberatkan pada pendampingan praktik langsung. Anggota tim pengabdi Universitas Mataram, I Gede Nano Septian, turun ke lapangan memastikan setiap tahapan berjalan optimal.

"Peserta dapat memperoleh arahan secara langsung ketika menghadapi berbagai permasalahan selama proses budidaya," kata I Gede Nano Septian saat mendampingi warga di lapangan.

Baca Juga: Rahasia Abon Lele Lingsar: Tahan Setahun Tanpa Pengawet, Pesanan Meledak

Hasil nyata dari program pertanian terpadu kini dirasakan nyata oleh para anggota PEKKA Sigar Penjalin. Demplot sayuran pekarangan mereka sudah dua kali memanen bayam dan sawi pakcoy pada Juli dan Agustus 2026. Sebagian panen dikonsumsi mandiri, dan sisanya dijual ke warga Desa Sigar Penjalin untuk mengisi kas kelompok.

Perubahan positif juga diakui oleh salah satu anggota PEKKA Sigar Penjalin, Laily Susmini Kurniawati. Ia merasa pengelolaan lingkungan di desanya makin produktif pasca hadirnya pengolahan limbah organik.

"Sampah kita jadi tidak terbuang dan jadi masalah, malah bisa jadi makanan untuk ayam dan lele di sini," ungkap Laily Susmini Kurniawati penuh semangat.

Saat ini demplot ayam petelur dan ikan lele milik PEKKA Sigar Penjalin sedang memasuki tahap pemeliharaan intensif dan diperkirakan siap panen perdana dalam 1,5 bulan ke depan. Keberhasilan model pertanian terpadu ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi percontohan mandiri bagi ketahanan pangan keluarga di Kabupaten Lombok Utara.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
pertanian terpadu ketahanan pangan keluarga pemanfaatan pekarangan Universitas Mataram Lombok Utara