Nokia Bakal Tinggalkan Pasar Tiongkok pada Pengujung Tahun Ini

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:02 WIB
HP Nokia G20 dengan RAM 4GB yang cocok untuk pekerja dengan UMK Kota Mataram
HP Nokia G20 dengan RAM 4GB yang cocok untuk pekerja dengan UMK Kota Mataram

LombokPost– Perusahaan raksasa telekomunikasi asal Finlandia, Nokia, bersiap memangkas mayoritas tenaga kerja sekaligus menutup hampir seluruh fasilitas operasionalnya di Tiongkok secara bertahap hingga pengujung tahun ini.

Langkah ini menandai berakhirnya rekam jejak bisnis Nokia di Negeri Panda setelah berkiprah selama hampir empat dekade.

Melansir informasi dari sumber internal yang mengetahui situasi tersebut, pemutusan hubungan kerja (PHK) akan dilakukan bertahap pada divisi Mobile Networks dan Network Infrastructure.

Hingga akhir tahun 2025, Nokia tercatat memiliki sekitar 7.200 karyawan yang tersebar di Tiongkok dan Hong Kong, dengan fasilitas operasional di kota Beijing, Shanghai, Hangzhou, Chengdu, dan Qingdao. Pasca-restrukturisasi, aktivitas Nokia di Tiongkok hanya akan menyisakan unit layanan purnajual (aftersales).

Laporan South China Morning Post (SCMP) menyebutkan bahwa sejumlah karyawan telah dipindahkan ke kantor pusat di Finlandia pada awal tahun ini. Seorang mantan pegawai Nokia di Shanghai juga mengonfirmasi telah menerima paket pesangon skema N+3, yakni kompensasi berdasarkan masa kerja ditambah tiga bulan gaji.

Kemunduran Raksasa Telekomunikasi akibat Persaingan Lokal

Keputusan ini memperlihatkan kontras tajam dari masa kejayaan Nokia di Tiongkok. Mengawali kiprahnya pada 1985 melalui kantor pertama di Beijing, Nokia memegang peran sentral dalam pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi Tiongkok sepanjang era 1990-an hingga mendominasi pasar ponsel pintar.

Puncak kinerja Nokia terjadi pada tahun 2010 dengan pembukuan pendapatan mencapai 7,62 miliar euro (sekitar Rp 157,56 triliun), yang menjadikan Tiongkok sebagai pasar tunggal terbesar Nokia secara global.

Namun, posisi dominan tersebut perlahan tergerus akibat sengitnya persaingan dengan vendor lokal. Nokia kehilangan banyak porsi dalam proyek pembangunan jaringan 5G nasional dan tertinggal dari raksasa teknologi domestik seperti Huawei Technologies dan ZTE.

Dampak dari kekalahan persaingan tersebut tecermin langsung pada kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan Nokia di Tiongkok anjlok drastis dari 1,84 miliar euro (sekitar Rp 38,04 triliun) pada 2019 menjadi 913 juta euro (sekitar Rp 18,88 triliun) pada tahun lalu.

Kontribusi pasar Tiongkok terhadap total pendapatan konsolidasi grup Nokia juga merosot dari 7,9 persen menjadi 4,6 persen.

Pihak manajemen Nokia membenarkan adanya penyesuaian skala operasional tersebut guna merespons dinamika pasar Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.

”Nokia telah mengambil langkah-langkah untuk menyelaraskan operasinya di Tiongkok dengan lebih baik dengan cara operasi global Nokia. Bisnis Nokia di Tiongkok telah terus menurun selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, kami menyesuaikan jejak operasional kami di Tiongkok untuk menghadapi kenyataan tersebut,” kata juru bicara Nokia dilansir dari SCMP.

Editor : Redaksi Lombok Post
nokia