LombokPost – Perjalanan Permen Susu Tapir Barokah menunjukkan sebuah usaha bisa tumbuh dari pengalaman sederhana.
Sebelum memiliki produk sendiri, Peti lebih dulu membantu memasarkan permen susu buatan sang ibu dan bibinya dari Desa Penyaring, Sumbawa Besar.
Aktivitas tersebut menjadi sekolah pertama bagi Peti untuk mengenal karakter konsumen.
Sekaligus membangun jaringan pelanggan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Baca Juga: Mitsubishi Pajero Generasi Kelima Debut Global Awal September 2026
Dari pengalaman itu, muncul keberanian untuk mengambil langkah lebih besar dengan memproduksi permen susu menggunakan mereknya sendiri.
“Ketika saya mulai produksi sendiri, saya tinggal mengganti produk-produk sebelumnya dengan produk saya sendiri,” ujar Peti.
Keputusan tersebut membuat Peti tak lagi hanya berperan sebagai penjual.
Ia mulai membangun usaha dari hulu, memikirkan produksi, pemasaran hingga bagaimana produknya bisa diterima pasar.
Baca Juga: SMKN 4 Mataram Siapkan LSP P1, Sertifikasi Kompetensi Siswa Diperkuat
Tantangan pun datang, Peti harus turun langsung menawarkan produk kepada konsumen dan mendatangi toko-toko yang dinilai potensial untuk menjadi tempat penitipan.
Cara tersebut dijalani secara bertahap sembari memperkenalkan Permen Susu Tapir Barokah kepada lebih banyak pelanggan.
Salah satu kekuatan produknya terletak pada karakter rasa.
Permen susu tersebut dibuat dengan cita rasa yang tidak terlalu manis sehingga lebih mudah diterima berbagai kelompok usia.
Kemasan yang menarik turut memperkuat daya saing produk di tengah banyaknya pilihan jajanan.
Namun, perjalanan usaha Peti tidak berhenti pada kemampuan memproduksi dan menjual.
Baca Juga: Citroen C3 Sport Edition, Tampil Agresif dan Harga Ekonomis
Sejak akhir 2021, Permen Susu Tapir Barokah mendapat pendampingan dari AMMAN.
Program tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan usaha, terutama dalam membuka akses pasar yang lebih luas.
“Setelah pendampingan dari PT AMMAN saya mendapat tambahan pelanggan reseller maupun konsumen biasa,” kata Peti.
Dampaknya mulai terasa, pasar yang sebelumnya berpusat di KSB perlahan melebar ke luar daerah.
Baca Juga: DLH Mataram Minta Tambahan Anggaran BBM Rp 7 Miliar
Bagi Peti, perluasan pasar bukan semata soal peningkatan penjualan, tetapi juga membuktikan produk lokal mampu bersaing ketika dikelola secara konsisten.
Usaha tersebut kini menjadi sumber penghasilan keluarga sekaligus membuka kesempatan kerja bagi sejumlah orang di sekitarnya.
Ke depan, Peti ingin memiliki toko sendiri di lokasi strategis pinggir jalan yang dapat menjadi pusat pemasaran berbagai produk lokal.
Ia juga berharap generasi muda tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi ikut mengangkat produk daerah.
“Untuk generasi muda saya berharap tidak hanya memakai, tetapi juga menjadikan produk buatan lokal sebagai pilihan utama dan sumber kebanggaan,” katanya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post