LombokPost– Harga komponen laptop yang terus meningkat membuat ruang produsen untuk menahan harga semakin sempit. ASUS Indonesia pun mengakui kenaikan harga produk sulit dihindari, karena sebagian besar komponen masih bergantung pada impor dan sensitif terhadap pergerakan dolar AS.
Riset TrendForce memproyeksikan harga kontrak pada kuartal III 2026 naik 13–18 persen secara kuartalan. Sementara harga kontrak NAND Flash diperkirakan meningkat 10–15 persen. Kenaikan harga komponen tersebut berpotensi ikut mengerek harga ritel notebook.
PR dan Digital Lead ASUS Indonesia Brama Setyadi mengatakan, kondisi itu membuat produsen memiliki ruang yang semakin terbatas untuk menurunkan harga. Karena itu, ASUS memilih memperkuat nilai yang diterima konsumen.
”Memang harga akan mahal. Itu nggak bisa dihindari. Kita nggak bisa turunkan harga. Tapi setidaknya ketika user beli produk ASUS, dia itu sudah ada jaminan sampai tiga tahun ke depan atau dua tahun ke depan,” ujarnya di Surabaya kemarin (10/9).
Strategi ASUS tidak hanya mengandalkan garansi. Perusahaan juga memperkuat spesifikasi dan teknologi perangkat agar dapat digunakan dalam jangka lebih panjang. Saat ini, ASUS memiliki 141 titik layanan servis di Indonesia. Jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan purnajual sekaligus menjaga nilai investasi konsumen terhadap perangkat yang dibeli.
”Cuma produk itu bisa dipakai sampai lima tahun. Jadi memang kita utamakan investasi mereka di ASUS itu nggak hanya mungkin satu-dua tahun, tapi lebih dari itu,” lanjut Brama.
Di tengah tekanan biaya, ASUS juga memperluas basis pasar. Jika sebelumnya pasar laptop banyak didominasi mahasiswa hingga pekerja, perusahaan mulai membidik konsumen yang lebih muda.
Segmen anak sekolah hingga generasi Z menjadi salah satu sasaran baru. ASUS melihat kelompok tersebut memiliki kebutuhan perangkat yang tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga gaya dan tren. (had/dio)
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos