LombokPost – Kuliner tradisional tidak lagi hanya dinikmati di meja rumah makan.
Di tangan UD Taliwang, kuliner legendaris kini bisa dinikmati di mana saja dan kapan saja.
Salah satunya, kuliner Ayam Taliwang yang dijual dalam kemasan kaleng dan plastik vakum.
Inovasi tersebut membuka peluang baru bagi produk kuliner lokal.
Baca Juga: New Suzuki Baleno Dapat Sentuhan Lebih Canggih
Tidak hanya memperpanjang masa simpan, pengemasan modern juga membuat produk lebih praktis dibawa sebagai oleh-oleh.
Produk tersebut dipasarkan UD Taliwang dengan merek Beca Bero. Istilah dalam Bahasa Sumbawa yang berarti “Mengapa Begitu”.
Nama unik itu sengaja dipilih untuk menarik perhatian konsumen sekaligus membangun identitas produk.
“Jadi, harus ada ketertarikan konsumen melalui nama produk yang unik,” kata owner UD Taliwang Nurhidayati.
Perempuan yang akrab disapa Ida Gaffar itu bukan pendatang baru dalam bisnis Ayam Taliwang.
Baca Juga: Makin Mewah, Lexus LS Terbaru Dibekali Teknologi REDS
Usaha yang dijalankannya merupakan kelanjutan dari bisnis keluarga yang dirintis orang tuanya, H Ahmad Moerad, salah seorang pioner Ayam Taliwang.
Berawal dari konsep kaki lima di Jalan Pejanggik, Kota Mataram, usaha tersebut berkembang hingga memiliki rumah makan di kawasan Taliwang, Cakranegara.
Ida kemudian meneruskan perjalanan usaha keluarga dengan membuka rumah makan Ayam Taliwang di Jalan Airlangga sejak 1997.
Namun, perubahan pola konsumsi wisatawan mendorongnya melihat peluang baru.
NTB sebagai daerah tujuan wisata memiliki pasar oleh-oleh yang besar.
Baca Juga: Harga Rp 120 Jutaan, Toyota Glanza Terbaru Dibekali Mesin Super Irit
Banyak wisatawan domestik ingin membawa makanan khas sebagai buah tangan.
Namun produk kuliner siap saji memiliki persoalan utama, yakni daya tahan.
Dari situlah gagasan mengemas Ayam Taliwang mulai dikembangkan.
Ida bersama sejumlah pihak menggali berbagai teknologi pengemasan.
Kolaborasi dengan akademisi Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
Baca Juga: Mitsubishi Siapkan Dua Pajero Baru Berukuran Mini
Termasuk lembaga penelitian yang kini berada dalam BRIN, menjadi bagian dari perjalanan inovasi tersebut.
Teknologi pengemasan kemudian membuat masa simpan produk semakin panjang.
Ayam Taliwang dalam kemasan plastik vakum dapat bertahan hingga tiga bulan.
Sementara produk yang dikemas dalam kaleng memiliki daya tahan hingga satu tahun.
“Syukur bertemu Fatepa Unram serta LIPI yang sekarang BRIN. Mereka memberi petunjuk cara mengemas Ayam Taliwang,” ujar Ida.
Baca Juga: Suzuki Boyong XL7 New Alpha Hybrid, Fronx GX Hybrid Kuro dan Grand Vitara di GIIAS Bandung 2026
Pengembangan produk tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga lembaga pengawasan pangan.
Inovasi tersebut menjadi bukti UMKM tidak harus meninggalkan produk tradisional untuk mengikuti perkembangan zaman.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jalan untuk memperluas pasar kuliner lokal.
Berkat kemasan yang lebih praktis dan masa simpan lebih panjang, Ayam Taliwang berpeluang menjangkau konsumen di luar daerah, bahkan pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Daihatsu Rocky Usung Teknologi e-Smart Hybrid
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post