Perkembangan AI Pemicu Lonjakan Permintaan Bahan Kimia PFAS untuk Pusat Data

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 23:21 WIB
Ilustrasi Artificial intelligence (AI). (www.istockphoto.com)
Ilustrasi Artificial intelligence (AI). (www.istockphoto.com)

LmbokPost— Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memicu lonjakan permintaan bahan kimia abadi atau per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) yang digunakan sebagai cairan pendingin pusat data (data center) generasi baru.

Kenaikan permintaan ini mendorong para produsen kimia global memperluas kapasitas produksi mereka di berbagai belahan dunia guna memenuhi kebutuhan infrastruktur digital tersebut.

Berdasarkan hasil survei organisasi pengawas bahan kimia asal Swedia, ChemSec, terhadap 10 produsen PFAS terbesar dunia, hampir seluruh perusahaan berencana meningkatkan produksi di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Lonjakan produksi ini erat kaitannya dengan "revolusi AI" yang membutuhkan sistem pendingin efisien serta komponen semikonduktor canggih.

Dalam operasional pusat data AI, PFAS digunakan pada teknologi two-phase immersion cooling, di mana server direndam dalam cairan PFAS bertitik didih rendah untuk menyerap dan membuang panas.

Selain pemanfaatan pada sistem manajemen suhu, senyawa ini juga memegang peranan krusial dalam manufaktur perangkat keras. Selain untuk pendinginan, PFAS juga terintegrasi dalam hingga 1.000 tahapan berbeda pada fabrikasi mikrochip skala nanometer.

Risiko Lingkungan dan Ancaman Kesehatan

Ekspansi produksi bahan kimia abadi ini memicu kekhawatiran dari lembaga pengawas lingkungan global terkait dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem.

Direktur Eksekutif ChemSec, Anne-Sofie Bäckar, memperingatkan bahwa ekspansi skala besar ini berisiko menggagalkan regulasi pembatasan PFAS di Eropa dan Amerika Serikat.

Dampak akumulasi zat sintetis tersebut menjadi sorotan utama mengingat sifatnya yang sulit terurai secara alami. "Bahaya akumulasi PFAS di alam dan tubuh manusia yang dikaitkan dengan risiko kanker, penyakit hati, hingga cacat lahir," kata Anne.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
chip ai semikonduktor