Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Penjualan Mobil Bekas Berjumlah Dua Kali Lipat Mobil Baru

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 23:56 WIB
Suzuki Bagikan Panduan Praktis Beli Mobil Baru, Ajak Konsumen Teliti Cek Unit Saat Serah Terima.
Suzuki Bagikan Panduan Praktis Beli Mobil Baru, Ajak Konsumen Teliti Cek Unit Saat Serah Terima.
 

LombokPost — Pasar otomotif nasional mencatatkan dinamika menarik di tengah kondisi perekonomian saat ini. Volume penjualan mobil bekas tercatat jauh melampaui pasar kendaraan baru, yakni mencapai kisaran 1,6 juta hingga 1,7 juta unit per tahun. Angka tersebut diperkirakan dua kali lipat dibandingkan dengan penjualan mobil baru yang bertahan di kisaran 800.000 unit per tahun.

Fenomena ini menjadi cerminan nyata dari tekanan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok masyarakat kelas menengah.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menjelaskan bahwa tren pergeseran pilihan konsumen ini telah berlangsung selama dua tahun terakhir seiring dengan melambatnya tren penjualan mobil baru.

”Kelas menengah kita itu daya belinya masih tertekan,” kata Kukuh di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Menurut Kukuh, pemulihan daya beli masyarakat menjadi krusial agar kemampuan daya serap pasar terhadap kendaraan baru kembali meningkat. Sebab, secara fundamental pasar mobil baru di Indonesia memiliki kapasitas potensial untuk melampaui angka satu juta unit per tahun.

Ketimpangan Harga Kendaraan dan Laju Daya Beli

Salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan pasar mobil baru adalah munculnya kesenjangan (gap) antara harga jual kendaraan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Kukuh memaparkan, kenaikan harga kendaraan rata-rata mencapai sekitar 7 persen per tahun, sementara laju pertumbuhan daya beli masyarakat hanya berkisar di angka 3 persen. Kesenjangan ini membuat keterjangkauan (affordability) masyarakat terhadap kendaraan baru kian terbatas.

”Dampaknya ikut terasa pada industri otomotif secara keseluruhan,” ucapnya.

Padahal, sektor manufaktur otomotif memegang peran strategis karena memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap industri penunjang lainnya serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan. ”Industri otomotif memberikan lapangan kerja kurang lebih sekitar 1,5 juta orang,” ujar Kukuh.

Kapasitas Produksi Belum Optimal dan Proyeksi Pertumbuhan

Dari sisi hulu, kapasitas terpasang manufaktur kendaraan nasional sebenarnya mencapai 2,5 juta unit per tahun. Kendati demikian, angka produksi aktual hingga saat ini masih bertahan di bawah dua juta unit per tahun, sehingga terdapat idle capacity yang cukup besar.

”Kondisi tersebut tidak terlepas dari pasar domestik yang belum kembali ke level potensialnya,” imbuh Kukuh.

Gaikindo menilai percepatan pertumbuhan ekonomi nasional dan pemulihan daya beli menjadi kunci utama untuk mendongkrak industri kendaraan bermotor. Apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 5 hingga 5,5 persen, pasar kendaraan diperkirakan cenderung bergerak stagnan di level satu juta unit.

”Kalau kemudian ekonominya tumbuh di 6 persen, maka itu juga akan terjadi lompatan penjualan kendaraan bermotor,” kata Kukuh.

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
mobil bekas Mobil Baru