Investasi Data Center Melonjak, Pemerintah Didorong Kawal Transfer Teknologi dan Pasokan Energi

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 00:10 WIB
Investasi pasar modal kini semudah menggenggam ponsel
Investasi pasar modal kini semudah menggenggam ponsel

LombokPost— Gelombang investasi berskala besar di sektor infrastruktur pusat data (data center) menjadi sinyal positif bagi penguatan ekosistem ekonomi digital nasional. Kendati demikian, ekspansi padat modal ini dinilai perlu diimbangi dengan kepastian transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja lokal berkeahlian tinggi, serta pengelolaan sumber daya air dan energi yang berkelanjutan.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengemukakan bahwa tingginya arus investasi membuktikan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu basis utama pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan infrastruktur digital di kawasan.

Namun, Heru menekankan bahwa besaran angka realisasi investasi tidak boleh dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan. Pemerintah diminta bertindak aktif memastikan nilai tambah ekonomi riil yang tercipta di dalam negeri.

“Contohnya, CGK4 Jatiluhur dirancang mencapai 640 mega watt (mw), enam gedung, dengan tahap awal 120 mw. Pertanyaannya adalah berapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia? Pemerintah harus memastikan investasi membawa transfer teknologi, tenaga ahli lokal, penggunaan industri dalam negeri, serta kontribusi ekonomi daerah,” ujar Heru di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Heru memaparkan, karakteristik industri data center merupakan investasi padat modal yang relatif menyerap sedikit tenaga kerja setelah fase konstruksi selesai akibat tingginya tingkat otomatisasi. Oleh sebab itu, pemerintah daerah diimbau tidak hanya berfokus pada kuantitas lapangan kerja saat pembangunan, melainkan mendorong kualifikasi SDM lokal untuk mengisi posisi operasional strategis.

”Target sebenarnya adalah sebanyak mungkin tenaga kerja lokal masuk ke pekerjaan berkeahlian tinggi saat operasional,” terangnya.

Sorotan Kadin: Pengelolaan Neraca Air dan Keandalan Listrik

Dari sisi daya dukung lingkungan dan infrastruktur, Kadin Indonesia memberikan catatan kritis mengenai tingginya konsumsi air dan listrik oleh fasilitas data center.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa menyoroti pentingnya penyusunan kajian neraca air yang transparan dan berbasis data sebelum fasilitas beroperasi secara penuh. Kajian tersebut harus memperhitungkan proyeksi kebutuhan saat musim kemarau, skenario kekeringan ekstrem, hingga dampak perubahan iklim.

Selain air, keandalan pasokan listrik 24 jam menjadi syarat mutlak operasional data center. Erwin menilai pertumbuhan kapasitas fasilitas digital ini harus diselaraskan dengan kesiapan pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk, dan sistem cadangan (backup system).

Kadin mendorong agar pemetaan kebutuhan listrik dari konsentrasi data center dalam satu kawasan dihitung secara akumulatif, lalu diintegrasikan ke dalam rencana kelistrikan nasional dan daerah guna mencegah gangguan pasokan bagi konsumen lain.

Erwin juga mendesak percepatan transisi ke sumber energi bersih. Menurut dia, ketergantungan pada energi fosil berpotensi memperbesar jejak karbon (carbon footprint) dari pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Tren Realisasi Investasi Sektor Jasa

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada sektor jasa lainnya—yang mencakup industri data center—menunjukkan tren peningkatan konsisten selama lima tahun terakhir:

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
investasi energi data Center