LombokPost – Bagi Yuyun Ahdiyanti, kain tenun bukan sekadar lembaran kain dengan motif indah.
Di balik setiap benang dan coraknya, tersimpan cerita, doa, serta sejarah masyarakat Bima yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keprihatinan melihat tradisi menenun di Kelurahan Ntobo, Kota Bima, mulai ditinggalkan generasi muda mendorong Yuyun mengambil langkah.
Pada 2015, ia mendirikan UKM Dina, usaha yang tidak hanya menjual kain tenun khas Bima, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan bagi para penenun lokal.
Baca Juga: BYD Great Han Launching 13 Oktober 2026, Sedan Listrik Premium Jumbo dengan Pengisian Daya Ekstrem
Dalam bahasa setempat, Dina berarti terang atau cahaya pagi.
Nama tersebut menjadi simbol harapan Yuyun untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi para perempuan penenun di kampung halamannya.
Sejak remaja, Yuyun telah akrab dengan aktivitas menenun.
Mayoritas masyarakat Ntobo juga menggantungkan penghasilan dari keterampilan tersebut.
Baca Juga: Mengenal CEER Exobot, Mobil Listrik Arab Saudi Bertenaga 850 DK
Namun, persoalan pemasaran dan keterbatasan modal membuat hasil tenun warga kerap bergantung kepada pengepul.
Kondisi itu membuat posisi penenun menjadi kurang menguntungkan.
Ditambah letak Ntobo yang berada di bagian utara Kota Bima, jauh dari pusat kota dan akses jalan utama, pengembangan usaha secara konvensional menjadi tantangan tersendiri.
Media sosial lantas dimanfaatkan sebagai etalase digital untuk memperkenalkan kain tenun Ntobo kepada pasar yang lebih luas.
Awalnya, pemasaran dilakukan sederhana melalui Facebook.
Foto produk bahkan dibuat bersama keluarga dan tetangga. Namun, dari langkah kecil tersebut, pasar mulai terbentuk.
Baca Juga: Berburu Ketenangan di Pantai Mangge Longko, Perpaduan Batuan Unik, Pasir Putih dan Suasana Alami
UKM Dina kemudian tidak berhenti pada penjualan kain tradisional.
Yuyun mendorong inovasi desain agar tenun Bima lebih dekat dengan selera konsumen masa kini.
Kain tenun dikembangkan menjadi busana etnik, syal, outer, ikat pinggang hingga dekorasi rumah.
Langkah tersebut membuat tenun Ntobo memiliki nilai tambah sekaligus membuka pasar baru, termasuk konsumen muda dan pasar internasional.
Baca Juga: Gurih Pedasnya Nasi Goreng Teri Cabe Ijo Solaria
Dampaknya juga dirasakan para penenun.
Melalui UKM Dina, puluhan perempuan lokal mendapatkan kesempatan bekerja, pelatihan, hingga dukungan pengembangan usaha.
Konsistensi Yuyun mendapat apresiasi melalui SATU Indonesia Awards 2024 kategori kewirausahaan dari Astra.
Penghargaan tersebut menjadi penguat bagi misinya memperkenalkan Ntobo sebagai salah satu kampung tenun di Bima.
“Bagi saya tenun adalah bahasa kami. Di setiap motifnya ada cerita, doa, dan sejarah. Saya tidak ingin tenun menjadi pajangan museum. Saya ingin ia tetap hidup dan dipakai,” ujarnya.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Liputan