Rupiah Nyaris Rp 18 Ribu per Dolar AS, Tekanan Global Menguat, BI Perkuat Intervensi

Kimda Farida • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 09:39 WIB
Uang pecahan Rp100.000 ditampilkan berdampingan dengan uang pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran valuta asing di Jakarta, 4 Juni 2026, setelah nilai tukar rupiah melemah menembus Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP)
Uang pecahan Rp100.000 ditampilkan berdampingan dengan uang pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran valuta asing di Jakarta, 4 Juni 2026, setelah nilai tukar rupiah melemah menembus Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP)

 

LombokPost--Nilai tukar rupiah kembali tertekan. Pada perdagangan Selasa (29/9), rupiah ditutup di level Rp 17.998 per dolar AS, atau mendekati level psikologis Rp 18 ribu.

      Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.

Tekanan itu terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang menembus USD 108 per barel. Kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz juga belum tercapai.

"Kondisi ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut," kata Erwin, Selasa (29/9).

Ekspektasi tersebut mendorong kenaikan yield surat utang pemerintah AS (UST) tenor 10 tahun hingga 5,23 persen. Level itu merupakan yang tertinggi sejak 2007.

Baca Juga: NTB Perkuat Kerja Sama Antardaerah dengan Lampung

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri.

Kebutuhan valuta asing (valas) importir meningkat menjelang akhir triwulan III. 

Di saat yang sama, terjadi arus keluar dana dari aset portofolio negara-negara emerging markets seiring kenaikan yield obligasi.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin.

BI memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market).

Salah satunya dengan mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

Stabilisasi nilai tukar juga dilakukan dengan menjaga kecukupan likuiditas.

BI meningkatkan insentif untuk instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) sebagai instrumen lindung nilai bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan pendanaan luar negeri.

Intervensi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat.

Erwin mengatakan, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan.

Secara quarter-to-date (qtd), rupiah melemah 0,67 persen.

Baca Juga: MotoGP Mandalika Masuk Tahap Final Check

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. 

Tiga Tekanan

 Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini terutama berasal dari faktor eksternal.

Baca Juga: Sawah di Kuripan Mulai Mengering

Tiga faktor utama adalah kenaikan yield surat utang AS, tingginya harga minyak, dan melemahnya arus investasi portofolio.

"Yang paling dominan adalah kenaikan kembali imbal hasil surat utang pemerintah AS setelah pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan menaikkan suku bunga," kata Josua.

Kenaikan yield AS membuat aset berbasis dolar semakin menarik.

Pada saat yang sama, selisih imbal hasil aset Indonesia dan AS menyempit. Kondisi itu mengurangi daya tarik aset berbasis rupiah.

Tekanan bertambah karena konflik di Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor minyak.

Risiko inflasi dan beban fiskal juga ikut meningkat.

"Tekanan sekarang datang dari tiga arah, yakni tingginya imbal hasil AS, harga Brent di atas USD 100, dan melemahnya arus investasi portofolio," jelasnya.

Josua mencatat, arus modal keluar mulai terlihat.

Pada pekan hingga 25 September, investor asing mencatat penjualan bersih obligasi Indonesia sekitar USD 127 juta dan saham sekitar USD 145 juta.

Arus keluar tersebut terjadi ketika harga minyak kembali mendekati USD 106 per barel dan dolar AS menguat.

Meski rupiah mendekati Rp 18 ribu, Josua menilai level tersebut lebih tepat dilihat sebagai batas psikologis pasar.

Angka itu tidak serta-merta mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

"Level Rp 18.000 sebaiknya dipahami sebagai batas psikologis pasar, bukan batas fundamental yang menentukan sehat atau tidaknya perekonomian," ujarnya.

Di tengah tekanan rupiah, BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September.

Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin. Suku bunga naik dari 4,75 persen pada April menjadi 5,75 persen sejak Juni.

Josua menilai keputusan mempertahankan BI Rate 5,75 persen masih konsisten dengan upaya menjaga stabilitas rupiah tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

Apalagi, inflasi Agustus tercatat 3,19 persen, masih dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
dolar as Bank Indonesia rupiah nilai tukar rupiah bi rate