LombokPost – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB mendorong modernisasi pertanian di Sembalun, Lombok Timur.
Tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menekan biaya usaha tani.
Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), BI NTB mendampingi empat kelompok tani di Sembalun.
Di antaranya, kelompok tani Lendang Luar, Pelangi, Gumilang, dan Maju Wangi.
Baca Juga: Posbankum Pagesangan Mediasi Kecelakaan yang Tewaskan Warga, Berakhir Damai
Total areal yang menjadi bagian dari program tersebut mencapai 151 hektare.
Konsultan PUMKM KPwBI NTB Edy Suhardiman mengatakan, bawang putih merupakan salah satu komoditas yang turut memengaruhi inflasi daerah.
Karena itu, mulai 2026 pendampingan diarahkan lebih luas, dari sebelumnya fokus pada penyediaan benih menjadi pengembangan bawang putih konsumsi.
“Tujuannya adalah untuk mengurangi cost biaya pengolahan tanah yang cukup tinggi di tingkat petani,” ujar Edy, Jumat (2/10).
Baca Juga: OWL Eyewear Buka Gerai Perdana di Lombok Epicentrum Mall
Pendampingan dalam PSBI ini berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Seperti traktor besar dan traktor tangan.
Bantuan ini diharapkan mampu memangkas biaya sekaligus menjawab persoalan keterbatasan tenaga kerja di tingkat petani.
Modernisasi juga menyentuh teknik budi daya. BI NTB menggandeng Universitas Mataram (Unram) untuk mengembangkan demonstration plot (demplot) seluas 2 hektare.
Masing-masing kelompok tani memperoleh alokasi 0,5 hektare.
Namun, pelaksanaan demplot pembesaran umbi yang semula direncanakan November 2026 ditunda hingga awal 2027.
Baca Juga: LPKN Training Center Mataram Siapkan Tenaga Kerja Terampil NTB untuk Kerja ke Eropa
Manajer KPwBI NTB Rahardian Luthfan Ihtifazhuddin mengatakan, penyesuaian jadwal dilakukan karena November mulai memasuki musim penghujan.
“Proyek demplot kita mundur sampai awal tahun depan menunggu musim yang optimal,” ujar Rahardian.
Dalam riset bersama Unram, pengaturan jarak tanam menjadi salah satu kunci pembentukan umbi.
Untuk bawang putih konsumsi, jarak tanam dibuat lebih renggang sekitar 15 x 20 centimeter dibandingkan pola benih 7,5 x 10 sentimeter.
Baca Juga: Wakil Jaksa Agung Prof Asep Bawa Gagasan Hukum Berdampak di Unram
Potensi ekonominya pun besar. Produktivitas bawang putih Sembalun disebut mencapai 13–14 ton basah per hektare.
Dengan harga sekitar Rp 16 ribu per kilogram di tingkat sawah, nilai produksi kotor dapat menembus Rp 200 juta per hektare dalam satu musim tanam sekitar tiga bulan.
Ruspaini mengatakan Sembalun memiliki hamparan lahan yang luas.
Tantangannya kini adalah fragmentasi lahan dan pergeseran sebagian petani ke komoditas lain seperti stroberi.
“Luas hamparan di Sembalun ini hampir 5.000 hektare.
Jika semua bisa ditanami bawang putih secara serentak seperti dulu, Insya Allah target swasembada itu ada di depan mata,” tandasnya.
Baca Juga: Dari Amager Bakke ke NTB: Pelajaran Mengolah Sampah Menjadi Energi
Ketua Kelompok Tani Lendang Luar Ruspaini Efendi Sembahulun merasakan langsung perbedaan pengolahan lahan secara manual dan menggunakan traktor.
Sebelumnya, sewa hand tractor di Sembalun dapat mencapai Rp 1,5-2 juta per hektare.
“Kalau pakai cangkul manual, satu orang paling kuat menyelesaikan kurang dari 3 are per hari. Dengan traktor dari BI, dari pagi sampai sore bisa menyelesaikan pengolahan tanah hingga 2 hektare per hari,” terang Ruspaini.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post