Bawang Putih Sembalun Tembus Ujung Timur Indonesia

Ferial Ayu • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:58 WIB
MENJANJIKAN: Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Desa Sembalun Ruspaini Efendi Sembahulun menunjukkan hasil panen bawang putih yang sedang dijemur di halaman rumahnya, pekan lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)
MENJANJIKAN: Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Desa Sembalun Ruspaini Efendi Sembahulun menunjukkan hasil panen bawang putih yang sedang dijemur di halaman rumahnya, pekan lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Bawang  putih kembali menjadi komoditas yang menjanjikan bagi petani di Sembalun, Lombok Timur.

Di tengah kebutuhan nasional yang masih tinggi, tanaman hortikultura tersebut membuka peluang usaha yang cukup besar bagi petani.

Sekaligus menjadi sumber penghasilan masyarakat desa.

Ruspaini Efendi Sembahulun, ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Desa Sembalun mengatakan, bawang putih masih menjadi salah satu komoditas utama petani setempat.

Baca Juga: Menenun Kain, Memanen Listrik, Inovasi Unik Mina Tenun Sukarara

Selain bawang putih, petani juga mengembangkan cabai dan berbagai jenis sayuran.

“Mayoritas petani di Sembalun menanam bawang putih, cabai dan sayuran. Sekarang pemerintah sangat konsen terhadap bawang putih karena kebutuhan nasional sangat besar,” kata Ruspaini.

Menurutnya, kebutuhan bawang putih nasional mencapai sekitar 650 ribu hingga 700 ribu ton per tahun.

Pemerintah bahkan menargetkan swasembada bawang putih pada 2031.

Baca Juga: Bale KITA Siap Sambut MotoGP Mandalika 2026, Sediakan Beragam Produk Unggulan NTB

Sementara swasembada benih ditargetkan tercapai pada 2029.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi peluang bagi petani Sembalun untuk memperkuat produksi.

Apalagi, bawang putih memiliki siklus budi daya yang relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan.

Dari sisi ekonomi, potensi komoditas ini cukup menarik.

Produktivitas bawang putih di Sembalun saat ini rata-rata mencapai 13-14 ton basah per hektare.

Dengan asumsi harga sekitar Rp 16 ribu per kilogram di tingkat sawah, produksi 14 ton dapat menghasilkan omzet sekitar Rp 224 juta per hektare.

Baca Juga: Perkuat Kedekatan dengan Konsumen, DAIHATSU Bawa Terios Special Edition dan New Sigra

“Umurnya sekitar tiga bulan. Potensinya luar biasa,” ujarnya.

Kelompok Tani Lendang Luar sendiri mengelola lahan sekitar 45-50 hektare dengan jumlah anggota mencapai 60-70 orang.

Sementara itu, total lahan empat kelompok tani yang mendapat pendampingan mencapai sekitar 151 hektare.

Potensi tersebut kini terus didorong agar memberikan nilai ekonomi lebih besar.

Baca Juga: Toyota Land Cruiser LC 300, Mewah dan Tangguh  

Selama ini, sebagian petani Sembalun masih fokus menghasilkan bawang putih untuk kebutuhan benih.

Ke depan, mereka diarahkan meningkatkan produksi umbi konsumsi dengan ukuran lebih besar.

Pengembangan bawang putih juga tetap mengandalkan varietas lokal.

Petani Sembalun masih mempertahankan varietas Sangga Sembalun dan Lumbu Putih yang telah dikenal sebagai bagian dari kekayaan pertanian daerah.

Pasarnya pun tidak hanya berada di Lombok.

Benih bawang putih dari Sembalun telah dikirim ke berbagai daerah, termasuk Sentani, Papua, hingga Aceh.

Baca Juga: ETF Emas, Cara Baru Investasi Logam Mulia

Saat ini, petani menyiapkan sekitar 1.260-1.280 ton benih dari areal hampir 500 hektare.

Di sisi lain, penguatan usaha tani juga menyentuh persoalan biaya produksi.

Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), kelompok tani mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor besar, hand tractor dan berbagai peralatan pendukung.

Bantuan tersebut dinilai sangat membantu karena pengolahan lahan menjadi salah satu tahapan paling berat dalam budidaya bawang putih.

Baca Juga: BI NTB Dorong Modernisasi Pertanian Bawang Putih Sembalun

Terlebih, pola tanam di Sembalun dilakukan secara serentak sehingga kebutuhan tenaga kerja meningkat dalam waktu bersamaan.

Ruspaini mengatakan, pengolahan lahan secara manual hanya mampu mencapai sekitar 2-3 are per hari untuk seorang petani.

Sementara dengan menggunakan traktor, kapasitas pengolahan bisa meningkat hingga sekitar dua hektare per hari.

“Pengaruhnya sangat jauh. Apalagi pola tanam di Sembalun dilakukan serentak. Kalau mengandalkan tenaga manusia, sulit mencari pekerja,” katanya.

Efisiensi juga terasa dari sisi biaya.

Sebelum mendapatkan dukungan alsintan, petani harus mengeluarkan sekitar Rp 1,5-2 juta untuk menyewa hand tractor dalam mengolah satu hektare lahan.

Baca Juga: Mitsubishi New Xforce Hadirkan Fitur Frameless Panoramic Roof, Bikin Nyaman Selama Perjalanan

Dengan dukungan peralatan tersebut, beban biaya dan ketergantungan terhadap tenaga kerja dapat ditekan.

Bagi petani, efisiensi itu menjadi modal penting untuk menjadikan bawang putih bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga usaha yang semakin menguntungkan.

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
Bawang putih Sembalun Petani sembalun bawang putih Peluang Usaha