Berkat Kualitasnya, Kopi Arabika Sajang Semakin Diminati

Ferial Ayu • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:08 WIB
JADI INCARAN: Produk kopi arabika dalam kemasan bubuk dan bean yang ada di etalase Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia, di Desa Sajang, Lombok Timur. (FERIAL/LOMBOK POST)
JADI INCARAN: Produk kopi arabika dalam kemasan bubuk dan bean yang ada di etalase Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia, di Desa Sajang, Lombok Timur. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Kopi Sembalun dan Sajang, Lombok Timur, memiliki peluang pasar yang semakin terbuka.

Permintaan datang tidak hanya dari pelaku usaha kopi di NTB.

Banyak pesanan datang dari luar Pulau Lombok hingga ekspor ke luar negeri.

Pada Agustus 2026, salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) NTB melakukan ekspor tiga ton kopi robusta ke Korea Selatan.

Baca Juga: Bawang Putih Sembalun Tembus Ujung Timur Indonesia

UMKM tersebut bernama Koperasi Produsen Bumi Lestari Indonesia yang berada di Desa Sajang.

Anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia Ruslan mengatakan, kopi jenis arabika Sembalun dan Sajang memiliki permintaan yang cukup tinggi.

Sayangnya, produksi yang tersedia masih jauh dari kebutuhan pasar.

“Arabika sangat dicari-cari. Cuma tahun ini quantity-nya sangat rendah sekali dalam produksi pascapanennya,” ujar Ruslan.

Baca Juga: Menenun Kain, Memanen Listrik, Inovasi Unik Mina Tenun Sukarara

Di kelompoknya, produksi arabika pada tahun ini hanya sekitar lima ton.

Sementara itu, produksi arabika di Desa Sajang secara keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 18-20 ton per musim.

Angka tersebut masih belum mampu memenuhi permintaan.

Ruslan menyebut kebutuhan pasar terhadap arabika diperkirakan bisa mencapai lebih dari 50 ton per tahun.

Permintaan bahkan datang dari pelaku usaha kopi di Kota Mataram yang rutin mencari biji kopi dari Sajang.

Kondisi produksi yang terbatas juga membuat petani memilih pola kerja sama ekspor secara fleksibel.

Baca Juga: PLN UP3 Bima Tanam 600 Mangrove, Dukung Gerakan Kota Bima BISA dan Indonesia ASRI

 “Untuk saat ini kami masih kontrak putus. Begitu ada barang, dibayar, selesai. Kami khawatir kalau kerja sama terlalu intens tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan, nanti terkena penalti,” jelasnya.

Di tingkat petani, harga kopi juga cukup menjanjikan. Green bean robusta berada di kisaran Rp 90 ribu per kilogram.

Sedangkan arabika mencapai sekitar Rp 150 ribu per kilogram.

Tingginya harga tersebut sejalan dengan kuatnya permintaan.

Baca Juga: Arsenal Siap Gelontorkan Rp 1,6 Triliun demi Kenan Yildiz di Bursa Transfer Januari

Bahkan, stok arabika di kelompoknya kini sangat terbatas.

Sebagian hasil panen sengaja disimpan untuk memenuhi kebutuhan produksi kopi bubuk dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Sembalun.

“Untuk bean (Arabika, Red) sudah tidak ada yang kami keluarkan lagi. Sebagian kami sisihkan untuk kebutuhan produk bubuk,” katanya.

Dijelaskannya, dukungan Bank Indonesia melalui program peningkatan kapasitas turut membantu petani memperbaiki kualitas pascapanen dan pengolahan.

Salah satunya melalui kegiatan studi tiru ke Bandung yang memberikan pengalaman baru bagi petani.

Termasuk dalam penggunaan mesin roasting.

Baca Juga: Skuad Atlet Petanque NTB Siap Berlaga di Kejurnas Petanque 2026, Intip Daftar Nomor dan Targetnya

Kini, anggota kelompok sudah mampu mengoperasikan mesin tersebut secara mandiri.

Kelompok Bumi Tani Lestari Indonesia sendiri memiliki lahan sekitar 45 hektare dengan 35 anggota.

Produksi robusta mencapai sekitar 50 ton per tahun, jauh lebih besar dibandingkan arabika.

Pengembangan kopi juga dilakukan dengan pola tumpangsari. Kopi ditanam bersama komoditas lain seperti alpukat.

Baca Juga: FTI NTB Siapkan Atlet Terbaik Menuju PON Pantai 2026 di Ancol, Tunggu Juknis Nomor Tanding

Pola ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan ekonomi petani ketika harga salah satu komoditas mengalami penurunan.

“Kalau salah satu harga komoditas kurang bagus, masih ada komoditas lain yang bisa menutupi,” ujarnya.

Ruslan mengatakan, peluang pengembangan arabika masih sangat besar.

Namun, perluasan lahan di Sajang kini relatif sulit dilakukan karena sebagian besar lahan sudah menjadi hak milik masyarakat.

Karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas menjadi pilihan yang lebih realistis.

Selain pengolahan pascapanen, kelompok juga melakukan pembibitan secara mandiri dengan memilih varietas seperti Ateng Super dan Ateng Janda.

Baca Juga: Loteng Siapkan Markas Kodam XXX/Rinambora

Bibit tersebut disemai dan kemudian dibagikan kepada anggota.

Langkah ini dilakukan setiap tahun untuk menjaga keberlanjutan tanaman sekaligus memperkuat basis produksi kopi arabika di Sajang. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
Sajang Arabika Sajang arabika sembalun kopi